Lewati ke konten utama
Panduan Keuangan

5 sumber passive income realistis untuk masa pensiun

Kenali 5 sumber passive income realistis untuk masa pensiun di Indonesia: dividen, kupon SBN, sewa properti, bagi hasil, dan bisnis. Lengkap dengan estimasi.

Oleh Fernandes
Daftar isi

Ringkasan: Passive income membuat masa pensiun lebih tenang karena uang tetap mengalir tanpa kamu bekerja aktif. Lima sumber realistis di Indonesia adalah dividen saham, kupon SBN ritel, sewa properti, bagi hasil instrumen likuid, dan bisnis semi-otomatis. Semuanya butuh modal atau kerja di awal, lalu memberi aliran kas di kemudian hari.

Tujuan akhir perencanaan pensiun bukan sekadar menumpuk aset, melainkan mengubah aset itu menjadi aliran penghasilan yang menghidupimu tanpa harus bekerja. Inilah peran passive income. Berikut lima sumber yang masuk akal untuk konteks Indonesia.

1. Dividen saham dan reksa dana

Perusahaan yang sehat membagikan sebagian laba sebagai dividen kepada pemegang saham. Dengan memiliki saham perusahaan mapan (blue chip) atau reksa dana indeks, kamu bisa menerima dividen rutin. Imbal hasil dividen (dividend yield) bervariasi, umumnya beberapa persen per tahun, di luar potensi kenaikan harga saham.

Cocok untuk pensiunan yang ingin kombinasi penghasilan dan pertumbuhan. Pelajari dulu cara memilih saham blue chip.

2. Kupon SBN ritel

Surat Berharga Negara ritel seperti ORI dan SR (sukuk ritel) memberi kupon tetap yang dibayar bulanan, dengan pokok dijamin negara. Ini salah satu sumber penghasilan pasif paling aman dan cocok jadi fondasi arus kas pensiunan. Imbal hasilnya umumnya lebih tinggi daripada bunga deposito bank.

Penerbitan dibuka berkala oleh pemerintah, sering mulai dari Rp 1 juta. Pelajari perbedaan sukuk ritel dan ORI.

Satu hal yang sering terlewat: kupon SBN dipotong PPh final 10 persen sesuai PP No. 91 Tahun 2021 (turun dari sebelumnya 15 persen), dan pemotongan ini otomatis sebelum kupon masuk ke rekeningmu. Jadi yang kamu terima adalah angka bersih. Saat menghitung kebutuhan arus kas pensiun, selalu pakai imbal hasil bersih setelah pajak agar tidak salah hitung.

3. Sewa properti

Properti yang disewakan, rumah, kamar kos, atau ruko, memberi penghasilan rutin bulanan atau tahunan. Yield sewa di Indonesia bervariasi tergantung lokasi. Kelebihannya, nilai properti cenderung naik jangka panjang. Kekurangannya, butuh modal besar, kurang likuid, dan ada urusan perawatan serta pajak sewa.

SumberTingkat risikoLikuiditasCatatan
Dividen sahamMenengahTinggiImbal hasil + pertumbuhan
Kupon SBN ritelRendahMenengahDijamin negara
Sewa propertiMenengahRendahModal besar, ada perawatan

4. Bagi hasil instrumen likuid

Deposito dan reksa dana pasar uang memberi imbal hasil relatif stabil dengan risiko rendah. Meski tidak besar, instrumen ini berguna untuk menyimpan dana yang harus tetap likuid dan menghasilkan, misalnya untuk kebutuhan harian pensiunan. Cocok sebagai bantalan, bukan mesin pertumbuhan utama.

5. Bisnis semi-otomatis atau royalti

Sumber kelima butuh kerja keras di awal: membangun bisnis yang bisa berjalan dengan sistem (waralaba, usaha titip kelola), menyewakan aset produktif, atau menciptakan karya yang menghasilkan royalti. Setelah sistemnya jalan, kebutuhan keterlibatanmu menurun, meski tetap perlu pengawasan.

Diversifikasi dan kewaspadaan

Jangan menaruh seluruh harapan pada satu sumber. Kombinasikan beberapa agar arus kas tetap stabil saat salah satunya melemah. Waspadai tawaran "passive income" dengan imbal hasil tidak masuk akal, itu sering modus investasi bodong. Pastikan setiap produk diawasi OJK.

Contoh menghitung modal yang dibutuhkan

Pertanyaan tersulit bukan "instrumen mana", tetapi "berapa modal yang harus saya kumpulkan". Rumusnya sederhana:

Modal yang dibutuhkan = Kebutuhan kas per tahun / Imbal hasil bersih per tahun.

Misal kamu menargetkan penghasilan pasif Rp 5 juta per bulan, berarti Rp 60 juta per tahun. Anggap (contoh ilustrasi) portofolio campuran menghasilkan rata-rata 6 persen bersih per tahun setelah pajak. Maka:

Rp 60.000.000 / 0,06 = Rp 1 miliar.

Kalau target diturunkan menjadi Rp 3 juta per bulan (Rp 36 juta per tahun) dengan asumsi imbal hasil bersih yang sama, modal yang dibutuhkan turun menjadi sekitar Rp 600 juta. Sebaliknya, jika kamu hanya mengandalkan instrumen super aman dengan imbal hasil bersih sekitar 4 persen, modal untuk Rp 5 juta per bulan naik menjadi Rp 1,5 miliar.

Angka-angka di atas adalah ilustrasi untuk menunjukkan cara menghitung, bukan janji imbal hasil. Imbal hasil aktual berubah-ubah dan tidak dijamin, kecuali untuk komponen kupon SBN yang tetap. Yang penting: pakai imbal hasil bersih setelah pajak, dan beri margin untuk inflasi agar daya beli penghasilanmu tidak tergerus seiring waktu.

Kesalahan umum yang perlu dihindari

  • Memakai imbal hasil kotor. Dividen dan kupon dikenai pajak. Menghitung target dengan angka kotor membuat estimasi modal terlalu rendah.
  • Mengabaikan inflasi. Penghasilan Rp 5 juta hari ini tidak setara Rp 5 juta dua puluh tahun lagi. Sisihkan sebagian imbal hasil untuk reinvestasi agar pokok ikut bertumbuh.
  • Terlalu bergantung pada satu sumber. Sewa properti bisa kosong penyewa, dan dividen bisa dipangkas saat laba turun. Kombinasi beberapa sumber meredam guncangan.
  • Tergiur imbal hasil tidak masuk akal. Janji "passive income" puluhan persen per bulan hampir selalu skema penipuan. Cek legalitas produk di kanal resmi OJK sebelum menyetor.
  • Lupa biaya tersembunyi. Properti punya pajak, perawatan, dan masa kosong. Saham punya biaya transaksi. Hitung imbal hasil setelah semua biaya, bukan angka brosur.

Langkah memulai

  1. Hitung target penghasilan pasif bulanan saat pensiun.
  2. Bangun aset secara bertahap sejak muda, mulai dari instrumen aman seperti SBN ritel dan reksa dana.
  3. Tambah porsi dividen dan properti seiring modal bertumbuh.
  4. Diversifikasi dan tinjau berkala.

Membangun passive income adalah maraton, bukan sprint. Semakin dini memulai, semakin ringan jalannya. Pahami juga strategi portofolio mendekati pensiun.

Sumber: Kementerian Keuangan (kemenkeu.go.id) untuk informasi SBN ritel, dan OJK.go.id untuk edukasi investasi serta peringatan investasi ilegal.

Pertanyaan yang sering ditanya

Apa sumber passive income paling aman untuk pensiun?

Kupon Surat Berharga Negara (SBN) ritel termasuk paling aman karena dijamin negara dan memberi imbal hasil tetap. Cocok sebagai fondasi penghasilan pasif pensiunan.

Apakah passive income benar-benar tanpa usaha?

Tidak sepenuhnya. Passive income butuh modal atau kerja keras di awal untuk membangun aset. Setelah berjalan, perawatannya minimal tapi tetap perlu dipantau.

Berapa modal untuk mulai membangun passive income?

Bisa dimulai dari nominal kecil. SBN ritel sering dibuka mulai Rp 1 juta, dan reksa dana bahkan dari Rp 100 ribu. Yang penting konsisten menambah aset sejak dini.

Berapa modal yang dibutuhkan untuk passive income Rp 5 juta per bulan?

Tergantung imbal hasil instrumennya. Sebagai gambaran kasar, kebutuhan kas tahunan dibagi imbal hasil bersih per tahun. Jika kamu menargetkan Rp 5 juta per bulan (Rp 60 juta per tahun) dari instrumen yang menghasilkan sekitar 6 persen bersih, kamu perlu modal sekitar Rp 1 miliar. Semakin tinggi imbal hasil, semakin kecil modal yang dibutuhkan, tetapi biasanya disertai risiko lebih besar. Angka ini ilustrasi, bukan janji imbal hasil.

Apakah kupon SBN dan dividen dikenai pajak?

Ya. Kupon SBN ritel (ORI dan sukuk ritel) dikenai PPh final sebesar 10 persen sesuai PP No. 91 Tahun 2021, dan biasanya sudah dipotong otomatis sebelum masuk ke rekeningmu. Dividen juga dikenai pajak, sehingga saat menghitung target arus kas pensiun gunakan imbal hasil bersih setelah pajak, bukan angka kotor.

Referensi resmi

Diakses 12 Juni 2026.

Catatan pentingArtikel ini bersifat edukatif, bukan nasihat keuangan individual. Pertimbangan produk, regulasi, dan suku bunga bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk keputusan besar, konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat atau lembaga resmi yang relevan. Baca selengkapnya di Disclaimer Keuangan.

Artikel terkait di Pensiun & Wealth Planning