Lewati ke konten utama
Panduan Keuangan
Investasi5 menit baca

Stock split dan reverse stock split: apa itu dan dampaknya

Stock split memecah nominal saham sehingga harga per lembar turun tanpa mengubah nilai kepemilikanmu, reverse split kebalikannya. Pahami dampak dan sinyalnya.

Oleh Rizky Aditya
Daftar isi

Ringkasan: Stock split adalah pemecahan nilai nominal saham dengan rasio tertentu, misalnya 1:5, sehingga harga per lembar turun dan jumlah lembar yang kamu pegang naik dengan proporsi yang sama - nilai total kepemilikanmu tidak berubah sepeser pun. Reverse stock split adalah kebalikannya: beberapa lembar digabung jadi satu sehingga harga per lembar naik. Split biasanya dilakukan agar saham lebih terjangkau dan likuid, sedangkan reverse split sering dipakai emiten yang harganya menempel di batas bawah Rp50. Keduanya tidak mengubah nilai perusahaan, jadi jangan mengambil keputusan hanya karena harga terlihat "lebih murah".

Stock split dan reverse split termasuk aksi korporasi yang paling sering disalahpahami investor ritel. Artikel ini membedah cara kerjanya, alasan emiten melakukannya, dan sinyal apa yang perlu kamu waspadai.

Apa itu stock split?

Stock split (pemecahan saham) adalah aksi korporasi yang memecah nilai nominal saham dengan rasio tertentu. Rasio 1:5 artinya satu saham lama dipecah menjadi lima saham baru: harga per lembar turun menjadi seperlima, jumlah lembar yang kamu pegang naik lima kali lipat.

Yang penting dipahami: nilai total kepemilikanmu tidak berubah, dan nilai perusahaan (kapitalisasi pasar) juga tidak berubah. Yang berubah hanya "pecahan uangnya" - seperti menukar selembar Rp100.000 dengan lima lembar Rp20.000.

Di Indonesia, pemecahan dan penggabungan saham oleh perusahaan terbuka diatur OJK (antara lain lewat POJK tentang pemecahan saham dan penggabungan saham). Prosesnya butuh persetujuan RUPS dan persetujuan dari bursa, lalu diumumkan lewat keterbukaan informasi di situs BEI lengkap dengan rasio dan jadwalnya.

Contoh nyata yang banyak diingat investor: BBCA melakukan stock split 1:5 pada Oktober 2021, dari harga sekitar Rp36.000-an per lembar menjadi Rp7.000-an, sehingga satu lot yang tadinya butuh modal Rp3 jutaan lebih menjadi terjangkau di kisaran Rp700 ribuan.

Apa itu reverse stock split?

Reverse stock split (penggabungan saham) adalah kebalikannya: beberapa lembar saham digabung menjadi satu. Rasio 5:1 artinya lima saham lama digabung jadi satu saham baru, sehingga harga per lembar naik lima kali lipat dan jumlah lembarmu menyusut menjadi seperlima. Sekali lagi, nilai total kepemilikanmu tetap sama.

Satu hal teknis yang perlu kamu perhatikan pada reverse split: kalau jumlah lembarmu tidak habis dibagi rasio, akan muncul pecahan saham dan odd lot (saham di bawah satu lot). Aturan OJK mewajibkan emiten menyiapkan mekanisme penanganan pecahan saham ini, biasanya lewat pihak pembeli siaga. Cek keterbukaan informasi emiten untuk detail harga dan caranya, dan kalau kamu belum akrab dengan konsep lot, baca dulu apa itu lot saham dan cara menghitungnya.

Kenapa emiten melakukan stock split atau reverse split?

Motivasinya biasanya sangat berbeda:

  • Stock split: likuiditas dan keterjangkauan. Saham yang harganya sudah puluhan ribu rupiah per lembar butuh modal besar per lot, sehingga investor ritel sulit masuk. Split menurunkan tiket masuk, memperbanyak jumlah saham beredar, dan biasanya membuat transaksi lebih ramai. Split umumnya dilakukan emiten yang harganya naik tinggi karena kinerjanya bagus - itu sebabnya split sering (walau tidak selalu) muncul di saham blue chip.
  • Reverse split: menyelamatkan tampilan harga. Di BEI, harga saham di pasar reguler punya batas bawah Rp50 - saham yang menempel di sana sering dijuluki "saham gocap" dan praktis sulit diperdagangkan karena harga tidak bisa turun lagi. Reverse split mengangkat harga per lembar jauh di atas batas itu sehingga saham bisa bergerak dua arah lagi. Di bursa luar negeri, reverse split juga lazim dipakai untuk memenuhi syarat harga minimum agar terhindar dari delisting.

Bagaimana contoh perhitungannya?

Misal kamu punya 10 lot (1.000 lembar) saham seharga Rp8.000 per lembar, total Rp8.000.000.

SkenarioRasioLembar sesudahHarga per lembarNilai total
Sebelum aksi-1.000Rp8.000Rp8.000.000
Stock split1:44.000Rp2.000Rp8.000.000
Reverse split4:1250Rp32.000Rp8.000.000

Nilai total di kolom terakhir tidak pernah berubah. Perhatikan juga baris reverse split: 250 lembar artinya 2 lot plus 50 lembar odd lot yang hanya bisa dijual di pasar negosiasi atau lewat mekanisme yang disiapkan emiten.

Apakah stock split membuat saham jadi murah?

Secara nominal iya, secara valuasi tidak. Harga Rp2.000 setelah split bukan berarti lebih murah daripada Rp8.000 sebelum split, karena laba per saham (EPS) dan nilai buku per saham ikut terbagi dengan rasio yang sama. Rasio valuasi seperti PER dan PBV tidak berubah karena split.

Efek yang nyata justru psikologis dan likuiditas: harga yang terlihat terjangkau menarik lebih banyak investor ritel, transaksi jadi ramai, dan kadang harga naik setelah split karena sentimen. Tapi itu bukan kenaikan nilai fundamental - perusahaan tidak tiba-tiba lebih untung karena sahamnya dipecah. Sikapi split seperti kamu menyikapi aksi korporasi lain, misalnya right issue dan waran: lihat kondisi bisnisnya, bukan sekadar angka harganya.

Sinyal apa yang perlu diwaspadai dari reverse split?

Reverse split tidak otomatis buruk, tapi konteksnya sering kali kurang sehat. Waspadai bila:

  • Harga sahamnya lama menempel di Rp50 dan fundamentalnya terus merugi. Reverse split hanya mengubah tampilan harga; tanpa perbaikan bisnis, harga bisa kembali turun dan ruang penurunannya justru jadi lebar lagi.
  • Reverse split disusul rencana right issue. Pola "gabungkan saham dulu supaya harga naik, lalu terbitkan saham baru" sering dipakai untuk menggalang dana di harga yang lebih pantas secara kosmetik. Baca tujuan penggunaan dananya baik-baik.
  • Rasionya ekstrem (misalnya 10:1 atau lebih) tanpa penjelasan strategi yang masuk akal di keterbukaan informasi.
  • Kamu terkena odd lot dan mekanisme pembelian pecahan sahamnya tidak jelas. Pastikan kamu tahu harga dan prosedur penjualannya sebelum tanggal efektif.

Sebaliknya, stock split oleh emiten berfundamental kuat umumnya netral sampai positif: nilaimu tidak berubah, tapi sahamnya jadi lebih likuid.

Sebagai penutup, ingat bahwa artikel ini edukasi umum, bukan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi tetap tanggung jawabmu; selalu cek keterbukaan informasi resmi emiten di situs BEI sebelum bertindak.

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (IDX).

Pertanyaan yang sering ditanya

Apakah stock split membuat saya untung?

Tidak secara langsung. Stock split hanya memecah nilai nominal saham, jadi harga per lembar turun dan jumlah lembar naik dengan proporsi yang sama. Nilai total kepemilikanmu tepat sama sebelum dan sesudah split. Kenaikan harga setelah split, kalau terjadi, datang dari sentimen pasar dan likuiditas, bukan dari split itu sendiri.

Apakah reverse stock split selalu pertanda buruk?

Tidak selalu, tapi patut dicermati. Reverse split sering dilakukan emiten yang harganya sudah menempel di batas bawah Rp50 agar sahamnya bisa diperdagangkan normal lagi. Yang menentukan bukan reverse split-nya, melainkan kondisi fundamental di baliknya: kalau bisnisnya masih merugi dan tidak ada perbaikan, reverse split hanya mengubah tampilan harga, bukan nilainya.

Apa yang terjadi pada saham saya saat emiten melakukan stock split?

Jumlah lembar sahammu bertambah otomatis sesuai rasio dan harga per lembar disesuaikan turun pada tanggal efektif, tanpa perlu tindakan apa pun darimu. Nilai total portofoliomu tidak berubah karena aksi ini. Detail rasio dan jadwalnya diumumkan lewat keterbukaan informasi di situs Bursa Efek Indonesia.

Referensi resmi

Diakses 23 Juli 2026.

Catatan pentingArtikel ini bersifat edukatif, bukan nasihat keuangan individual. Pertimbangan produk, regulasi, dan suku bunga bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk keputusan besar, konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat atau lembaga resmi yang relevan. Baca selengkapnya di Disclaimer Keuangan.