Lewati ke konten utama
Panduan Keuangan
Investasi6 menit baca

Deposito vs obligasi negara: mana lebih aman dan menguntungkan?

Bandingkan deposito dan obligasi negara (SBN) dari sisi keamanan, imbal hasil, pajak, dan likuiditas agar dana parkirmu bekerja lebih optimal.

Oleh Rizky Aditya
Daftar isi

Ringkasan: Deposito dan obligasi negara (SBN) sama-sama instrumen pendapatan tetap berisiko sangat rendah. Deposito dijamin LPS sampai Rp 2 miliar, sedangkan SBN dijamin langsung oleh negara tanpa batas nilai. Kupon SBN biasanya lebih tinggi dari bunga deposito dan pajaknya lebih ringan (10% vs 20%), tapi deposito menang di kepastian tenor dan kesederhanaan.

Singkatnya: pilih deposito jika kamu butuh tenor pendek dan fleksibel (1 sampai 6 bulan) atau dananya akan dipakai dalam waktu dekat dengan kepastian penuh; pilih SBN jika horizonmu 2 sampai 3 tahun dan kamu mengincar imbal hasil lebih tinggi dengan risiko tetap minimal.

Banyak orang menaruh dana "aman" mereka di deposito karena terasa familiar. Padahal sejak pemerintah rutin menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) ritel seperti ORI, SR (Sukuk Ritel), ST (Sukuk Tabungan), dan SBR (Savings Bond Ritel), ada alternatif yang sama amannya dengan imbal hasil lebih menarik. Mari kita bedah keduanya secara jujur.

Apa beda deposito dan obligasi negara?

AspekDepositoObligasi Negara (SBN Ritel)
PenjaminLPS sampai Rp 2 miliarNegara (UU), tanpa batas
Imbal hasil3 sampai 6 persen per tahun5,5 sampai 7 persen per tahun
PajakPPh final 20 persenPPh final 10 persen
Modal minimumRp 5 sampai 10 jutaRp 1 juta
Tenor1, 3, 6, 12 bulan2 sampai 3 tahun
Pembayaran imbal hasilSaat jatuh tempo (atau bulanan, tergantung bank)Kupon masuk ke rekening tiap bulan
Waktu pembelianKapan saja di bank mana punHanya saat masa penawaran, lewat mitra distribusi resmi
Likuiditas sebelum jatuh tempoPenalti pencairanORI/SR bisa dijual di pasar sekunder; SBR/ST hanya early redemption

Kenapa deposito tetap menarik?

Karakter: Deposito memberi bunga tetap selama tenor yang dipilih. Dananya dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga Rp 2 miliar per nasabah per bank, asalkan bunga yang diberikan tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS. Kalau bank menawarkan bunga di atas batas LPS, kelebihan itu tidak dijamin dan justru jadi sinyal hati-hati. Tingkat bunga penjaminan dievaluasi berkala; cek angka terbarunya di situs resmi LPS sebelum membuka deposito.

Kelebihan:

  • Imbal hasil benar-benar pasti, mudah dihitung
  • Pencairan saat jatuh tempo tanpa biaya
  • Tersedia di hampir semua bank, proses cepat

Kekurangan:

  • Pencairan sebelum jatuh tempo kena penalti
  • Setelah pajak 20 persen, return sering kalah inflasi
  • Bunga ikut turun saat BI Rate turun

Contoh kasus penalti: kamu membuka deposito tenor 12 bulan, lalu di bulan ke-4 butuh dana mendadak. Umumnya bank mengenakan penalti pencairan awal, dan sebagian bahkan menghanguskan bunga berjalan: pokok kembali utuh, tapi hasil 4 bulan bisa hilang. Solusinya, pecah dana jadi beberapa deposito bertenor pendek (laddering) agar selalu ada yang cair dekat.

Kenapa SBN aman tapi lebih cuan?

Surat Berharga Negara ritel adalah surat utang yang diterbitkan pemerintah untuk masyarakat. Saat kamu membeli ORI atau Sukuk Ritel, kamu meminjamkan uang ke negara dan menerima kupon (bunga) tiap bulan. Pembayaran kupon dan pokok dijamin undang-undang, tanpa batas nilai.

Apa saja jenis SBN ritel?

  • ORI dan SR: kupon tetap, bisa diperjualbelikan di pasar sekunder, jadi lebih likuid.
  • SBR dan ST: kupon mengambang dengan batas minimal (floating with floor), tidak bisa dijual di pasar sekunder, tapi punya fasilitas pelunasan awal (early redemption) sebagian.

Apa kelebihan SBN?

  • Kupon umumnya lebih tinggi dari bunga deposito setara tenor
  • Pajak kupon hanya 10 persen, separuh dari deposito
  • Dijamin penuh oleh negara lewat undang-undang, tanpa batas nilai
  • Modal mulai Rp 1 juta, ramah untuk pemula

Apa kekurangan SBN?

  • Hanya bisa dibeli saat masa penawaran (periode tertentu)
  • Tenor relatif terkunci (2 sampai 3 tahun)
  • ORI/SR yang dijual sebelum jatuh tempo bisa rugi bila harga pasar turun saat BI Rate naik

Ilustrasi risiko pasar sekunder: anggap kamu membeli ORI Rp 50 juta, lalu suku bunga acuan naik dan harga ORI di pasar sekunder turun ke 98 persen dari pokok. Kalau terpaksa menjual, kamu menerima sekitar Rp 49 juta, rugi Rp 1 juta dari pokok. Kalau ditahan sampai jatuh tempo, pokok kembali 100 persen; risiko harga hanya nyata bila kamu menjual di tengah jalan.

Berapa selisih imbal hasil bersihnya?

Misal kamu punya Rp 100 juta dan membandingkan deposito bunga 5 persen dengan ORI kupon 6,3 persen:

ItemDeposito 5%ORI 6,3%
Imbal hasil kotor setahunRp 5.000.000Rp 6.300.000
PajakRp 1.000.000 (20%)Rp 630.000 (10%)
Bersih setahunRp 4.000.000Rp 5.670.000

Selisih bersih hampir Rp 1,67 juta per tahun untuk modal yang sama, dengan tingkat keamanan yang setara. Ini sebabnya SBN sering disebut "deposito plus". Dikalikan tenor 3 tahun, selisihnya sekitar Rp 5 juta untuk dana yang memang tidak diutak-atik.

Bagaimana cara membeli SBN ritel?

  1. Pantau jadwal penerbitan di situs Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.
  2. Daftar lewat mitra distribusi resmi (bank atau fintech yang ditunjuk Kemenkeu); SID (Single Investor Identification) dibuatkan otomatis saat registrasi pertama.
  3. Pesan mulai Rp 1 juta dengan kelipatan Rp 1 juta.
  4. Bayar lewat kode billing sebelum batas waktu pemesanan.
  5. Terima bukti kepemilikan elektronik. Kupon masuk otomatis ke rekening tiap bulan, pokok kembali penuh di akhir tenor.

Waspadai penawaran "SBN" di luar kanal resmi; daftar mitra distribusi yang sah selalu diumumkan di situs Kemenkeu.

Kesalahan umum yang perlu dihindari

  • Mengejar bunga deposito di atas tingkat penjaminan LPS. Kelebihan bunganya tidak dijamin dan simpananmu bisa gugur syarat penjaminan.
  • Menaruh dana darurat di SBN. Tenor 2 sampai 3 tahun membuat dana sulit ditarik cepat.
  • Membandingkan angka kotor. Hitung setelah pajak 20 persen vs 10 persen; urutan pemenangnya bisa berubah.
  • Panik menjual ORI/SR saat harga pasar turun. Kalau tidak butuh dananya, tahan sampai jatuh tempo dan pokok kembali utuh.

Kapan pilih masing-masing?

  • Pilih deposito kalau kamu butuh tenor pendek dan fleksibel (1 sampai 6 bulan), atau dana akan dipakai dalam waktu dekat dan kamu ingin kepastian penuh.
  • Pilih SBN kalau horizonmu 2 sampai 3 tahun, kamu mengincar imbal hasil lebih tinggi dengan risiko tetap minimal, dan tidak masalah dananya terkunci sampai jatuh tempo.

Banyak investor sehat justru memakai keduanya: deposito untuk dana yang akan dipakai 6 sampai 12 bulan ke depan, dan SBN untuk dana cadangan jangka menengah yang ingin tumbuh lebih cepat.

Rekomendasi tindakan: Cek jadwal penerbitan SBN ritel terbaru di situs Kementerian Keuangan (Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko) atau lewat aplikasi mitra distribusi resmi. Untuk dana yang tidak akan diutak-atik 2 sampai 3 tahun, alokasikan ke SBN. Sisakan sebagian di deposito atau reksa dana pasar uang untuk kebutuhan likuid jangka pendek.

Artikel ini bersifat edukasi, bukan saran investasi personal. Ketentuan bunga, kupon, dan penjaminan bisa berubah; verifikasi di situs resmi LPS dan Kemenkeu sebelum memutuskan.

Sumber: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS): ketentuan penjaminan simpanan; Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan RI, informasi SBN ritel (ORI, SR, ST, SBR); Otoritas Jasa Keuangan (OJK): edukasi instrumen pendapatan tetap.

Pertanyaan yang sering ditanya

Mana yang lebih aman, deposito atau obligasi negara?

Keduanya sangat aman tapi penjaminnya beda. Deposito dijamin LPS sampai Rp 2 miliar per nasabah per bank, dengan syarat bunga tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS. Obligasi negara (SBN) dijamin langsung oleh negara lewat UU, tanpa batas nilai. Secara peringkat kredit, jaminan negara setara atau lebih kuat dari LPS.

Berapa modal minimal beli obligasi negara ritel?

SBN ritel seperti ORI dan SR dibuka mulai Rp 1 juta dengan kelipatan Rp 1 juta, maksimal biasanya Rp 5 miliar per individu per seri. Pembelian dilakukan saat masa penawaran lewat mitra distribusi resmi (bank dan fintech yang ditunjuk Kementerian Keuangan).

Apakah bunga deposito dan kupon SBN kena pajak?

Ya. Bunga deposito dikenakan PPh final 20%. Kupon SBN ritel dikenakan PPh final 10% (turun dari 15% sejak PP 91/2021 berlaku tahun 2021). Jadi imbal hasil bersih SBN sering lebih besar karena tarif pajaknya separuh deposito.

Referensi resmi

Diakses 17 Juli 2026.

Catatan pentingArtikel ini bersifat edukatif, bukan nasihat keuangan individual. Pertimbangan produk, regulasi, dan suku bunga bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk keputusan besar, konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat atau lembaga resmi yang relevan. Baca selengkapnya di Disclaimer Keuangan.

Artikel terkait di Investasi