Lewati ke konten utama
Panduan Keuangan
Investasi7 menit baca

Cara mulai investasi modal Rp 100 ribu untuk pemula

Panduan langkah demi langkah mulai investasi dengan modal Rp 100 ribu, reksa dana, nabung saham, SBN ritel, dan cara memilih aplikasi berizin OJK.

Oleh Rizky Aditya
Daftar isi

Ringkasan: Modal Rp 100 ribu sudah cukup untuk mulai investasi lewat reksa dana (mulai Rp 10.000) atau saham per lot murah (bisa sekitar Rp 100.000). SBN ritel minimal Rp 1 juta, jadi ia langkah lanjutan, bukan pintu masuk Rp 100 ribu. Kuncinya bukan besarnya modal melainkan memulai lebih awal, konsisten, memilih instrumen sesuai jangka waktu, dan menggunakan aplikasi yang berizin OJK. Untuk pemula, mulailah dari reksa dana pasar uang yang risikonya rendah, lalu tambahkan SBN ritel saat modal cukup sebelum naik ke saham.

Banyak orang menunda investasi karena merasa modalnya belum cukup. Padahal hari ini, dengan Rp 100 ribu kamu sudah bisa memulai. Yang lebih penting dari nominal adalah kebiasaan dan pemahamannya. Berikut panduan langkah demi langkah, lengkap dengan ilustrasi angka agar kamu tahu persis apa yang terjadi pada uangmu.

Catatan: artikel ini bersifat edukasi, bukan rekomendasi membeli produk tertentu. Setiap investasi mengandung risiko, dan angka pada ilustrasi di bawah hanya contoh, bukan janji imbal hasil.

Langkah 1: Siapkan fondasi dulu

Sebelum investasi, pastikan dua hal beres:

  1. Dana darurat: minimal beberapa kali pengeluaran bulanan di instrumen likuid. Investasi bukan pengganti dana darurat.
  2. Tidak ada utang konsumtif berbunga tinggi: melunasi utang kartu kredit atau paylater berbunga besar sering lebih "menguntungkan" daripada return investasi.

Ilustrasi: kartu kredit atau paylater bisa membebani bunga yang jauh lebih tinggi daripada imbal hasil rata-rata reksa dana pasar uang. Kalau kamu berinvestasi sambil menunggak cicilan berbunga tinggi, bunga utang biasanya "memakan" lebih cepat daripada uang investasimu tumbuh. Lunasi dulu utang mahal itu, baru fokus menambah setoran investasi.

Jika kamu sedang membangun keduanya, Rp 100 ribu/bulan untuk investasi tetap bisa jalan beriringan sebagai latihan disiplin.

Langkah 2: Tentukan tujuan dan jangka waktu

Instrumen yang tepat tergantung kapan kamu butuh dananya:

Jangka waktuTujuan contohInstrumen cocok
Kurang dari 1 tahunDana darurat, liburanReksa dana pasar uang
1-3 tahunDP motor, pernikahanRDPU, SBN ritel, reksa dana pendapatan tetap
Lebih dari 5 tahunDana pendidikan, pensiunReksa dana saham, saham, campuran

Jangan menaruh dana yang dibutuhkan tahun depan di saham yang fluktuatif. Contoh kesalahan umum: menaruh uang DP motor yang dipakai 8 bulan lagi ke reksa dana saham. Kalau pasar kebetulan turun saat kamu butuh dananya, kamu terpaksa jual rugi. Untuk tujuan sedekat itu, instrumen risiko rendah seperti reksa dana pasar uang lebih tenang meski imbal hasilnya lebih kecil.

Apa bedanya reksa dana, saham, dan SBN ritel?

Ketiganya sama-sama bisa dimulai dari modal kecil, tapi cara kerja, risiko, dan biayanya berbeda. Tabel ini membantumu memilih titik masuk yang pas:

InstrumenModal awalRisikoCara beli
Reksa dana pasar uangMulai Rp 10.000-100.000RendahLewat APERD berizin OJK
Reksa dana sahamMulai Rp 10.000-100.000Tinggi, fluktuatifLewat APERD berizin OJK
SahamPer lot (100 lembar)TinggiSekuritas anggota BEI, pakai RDN
SBN ritelMulai Rp 1 juta per seri (cek nominal resmi tiap terbit)RendahMitra distribusi resmi Kemenkeu

Buat pemula, jalur paling landai biasanya reksa dana pasar uang atau SBN ritel dulu: kamu belajar rutinitas menyetor dan memantau tanpa panik oleh naik-turun harga harian.

Langkah 3: Pilih instrumen sesuai modal

Dengan Rp 100 ribu, dua pilihan yang benar-benar terjangkau adalah reksa dana dan saham per lot murah:

  • Reksa dana: paling fleksibel. Dikelola Manajer Investasi, bisa mulai Rp 10.000-100.000. Pemula cocok di reksa dana pasar uang.
  • Saham: dibeli per lot (100 lembar). Saham Rp 1.000/lembar = Rp 100.000/lot. Mulai dengan emiten fundamental kuat (blue chip).
  • SBN ritel (ORI, SBR, Sukuk Ritel, Sukuk Tabungan): diterbitkan pemerintah, risiko rendah, imbal hasil dibayar rutin. Minimal pembeliannya umumnya Rp 1 juta per seri (nominal resmi tiap penerbitan diumumkan di kemenkeu.go.id), jadi ini langkah lanjutan saat modalmu sudah mencapai Rp 1 juta, bukan titik masuk Rp 100 ribu. Ditawarkan periode tertentu lewat mitra distribusi resmi.

Contoh perhitungan saham per lot: kalau harga sebuah saham Rp 950 per lembar, satu lot (100 lembar) berarti 100 x Rp 950 = Rp 95.000, masih di bawah Rp 100 ribu. Tapi kalau harganya Rp 1.500 per lembar, satu lot menjadi Rp 150.000 sehingga belum terjangkau dengan modal Rp 100 ribu. Di sinilah reksa dana unggul untuk modal kecil: kamu bisa membeli pecahan senilai Rp 100 ribu tanpa harus menggenapi satu lot.

Langkah 4: Gunakan platform berizin OJK

Keamanan dana bergantung pada legalitas penyelenggara:

  • Reksa dana: gunakan agen penjual efek reksa dana (APERD) berizin OJK.
  • Saham: buka rekening di perusahaan sekuritas anggota Bursa Efek Indonesia, yang akan membuatkan Rekening Dana Nasabah (RDN) terpisah atas namamu.
  • SBN ritel: beli lewat mitra distribusi resmi (bank/sekuritas/fintech) yang ditunjuk Kementerian Keuangan.

Selalu cek legalitas di situs resmi OJK sebelum menyetor. Waspadai investasi bodong yang menjanjikan keuntungan pasti dan besar.

Langkah 5: Mulai kecil, konsisten, otomatis

Kekuatan investor pemula bukan pada nominal besar, tapi pada konsistensi:

  • Aktifkan autodebet Rp 100 ribu/bulan agar tidak lupa dan tidak tergoda menundanya.
  • Terapkan dollar cost averaging: beli rutin dengan nominal tetap tanpa peduli harga naik atau turun. Ini meredam risiko salah waktu masuk.
  • Naikkan nominal seiring penghasilan bertambah.

Ilustrasi dollar cost averaging: kamu menyetor Rp 100 ribu tiga bulan berturut-turut ke reksa dana yang sama. Bulan pertama harga per unit Rp 1.000 (dapat 100 unit), bulan kedua harga turun ke Rp 800 (dapat 125 unit), bulan ketiga naik ke Rp 1.250 (dapat 80 unit). Total setoran Rp 300 ribu memperoleh 305 unit, sehingga harga rata-rata belimu sekitar Rp 984 per unit, lebih rendah daripada rata-rata harga pasar selama periode itu. Justru saat harga turun, uang tetap Rp 100 ribu membeli lebih banyak unit. Itulah kenapa DCA membuatmu tidak perlu menebak waktu terbaik masuk pasar.

Berapa lama modal Rp 100 ribu jadi berarti?

Jawaban singkatnya: jauh lebih cepat kalau kamu rutin dan sabar. Kekuatan sebenarnya bukan pada satu setoran, melainkan pada penambahan rutin plus efek bunga berbunga (compounding), yaitu ketika imbal hasil ikut menghasilkan imbal hasil.

Ilustrasi sederhana (hanya contoh, bukan janji): setoran Rp 100 ribu per bulan selama 10 tahun berarti modal murni yang kamu keluarkan Rp 12 juta, dan dengan imbal hasil yang terkumpul saldonya berpotensi lebih besar dari itu. Semakin panjang jangka waktunya, semakin besar porsi pertumbuhan dibanding setoran pokok. Sebaliknya, menunda mulai beberapa tahun memangkas periode compounding yang paling berharga. Karena itu memulai lebih awal, walau kecil, sering lebih menentukan daripada menunggu punya modal besar.

Perlu diingat, imbal hasil investasi tidak dijamin dan bisa naik-turun; ilustrasi di atas hanya untuk menggambarkan pola, bukan hasil pasti.

Langkah 6: Hindari kesalahan pemula

  • Jangan ikut-ikutan (FOMO) membeli aset yang sedang viral tanpa paham.
  • Jangan kejar untung instan: semakin tinggi janji return, semakin tinggi risikonya.
  • Jangan menaruh semua di satu aset: diversifikasi sejak awal.
  • Jangan panik jual saat pasar turun jika tujuanmu jangka panjang.

Rekomendasi praktis

Mulailah sekarang dengan apa yang ada, bahkan jika hanya Rp 100 ribu. Untuk langkah pertama dengan modal segitu, pilih reksa dana pasar uang yang risikonya rendah agar kamu nyaman belajar; SBN ritel (minimal Rp 1 juta) bisa menyusul saat modalmu bertambah, lalu tambahkan reksa dana saham untuk tujuan jangka panjang. Aktifkan autodebet, gunakan hanya platform berizin OJK, dan tingkatkan setoran seiring waktu. Yang membedakan investor sukses bukan modal besar di awal, melainkan kebiasaan menyisihkan dan kesabaran jangka panjang.

Lihat juga Reksa dana untuk pemula, Sukuk ritel vs ORI, dan Dollar cost averaging: strategi DCA untuk memperdalam langkah awalmu.

Sumber: OJK.go.id, daftar APERD & perlindungan investor, Kementerian Keuangan (kemenkeu.go.id): SBN ritel, Bursa Efek Indonesia (idx.co.id).

Pertanyaan yang sering ditanya

Apakah benar bisa investasi hanya dengan Rp 100 ribu?

Benar. Reksa dana di banyak aplikasi bisa dibeli mulai Rp 10.000-100.000. Saham dibeli per lot (100 lembar), sehingga saham seharga Rp 1.000 cukup Rp 100.000 per lot. Surat Berharga Negara ritel minimal pembeliannya lebih besar (umumnya mulai Rp 1 juta per seri, cek nominal resmi tiap penerbitan di kemenkeu.go.id), jadi lebih cocok sebagai langkah lanjutan setelah modalmu bertambah. Untuk memulai dengan Rp 100 ribu, reksa dana atau saham per lot murah adalah pintu masuknya. Modal kecil bukan halangan untuk memulai.

Investasi apa yang paling aman untuk pemula bermodal kecil?

Dari sisi risiko, reksa dana pasar uang dan Surat Berharga Negara (SBN) ritel sama-sama tergolong rendah. Untuk modal Rp 100 ribu, reksa dana pasar uang paling pas jadi langkah awal karena bisa dibeli mulai belasan ribu rupiah; SBN ritel butuh minimal sekitar Rp 1 juta per seri sehingga cocok menyusul saat modalmu bertambah. Reksa dana saham cocok untuk tujuan jangka panjang tapi lebih fluktuatif. Mulailah dari instrumen yang risikonya kamu pahami dan sesuai jangka waktu tujuanmu.

Bagaimana memastikan aplikasi investasi yang saya pakai legal?

Pastikan penyelenggara terdaftar dan berizin di OJK. Untuk reksa dana, cari agen penjual efek reksa dana (APERD) berizin; untuk saham, gunakan perusahaan sekuritas anggota Bursa Efek Indonesia. Kamu bisa mengecek legalitasnya di situs resmi OJK. Hindari yang menjanjikan untung pasti dan besar.

Referensi resmi

Diakses 13 Juli 2026.

Catatan pentingArtikel ini bersifat edukatif, bukan nasihat keuangan individual. Pertimbangan produk, regulasi, dan suku bunga bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk keputusan besar, konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat atau lembaga resmi yang relevan. Baca selengkapnya di Disclaimer Keuangan.

Artikel terkait di Investasi