Lewati ke konten utama
Panduan Keuangan
Investasi6 menit baca

Biaya Transaksi Saham: Rincian Fee Beli-Jual & Cara Menekannya

Bedah biaya transaksi saham: fee broker, levy, PPN, PPh final 0,1%, alasan fee jual lebih mahal, dan cara memilih sekuritas termurah.

Oleh Rizky Aditya
Daftar isi

Ringkasan: Biaya transaksi saham terdiri dari fee broker (komisi sekuritas), levy bursa (BEI, KPEI, KSEI), PPN atas komisi, dan PPh final 0,1% yang hanya dikenakan saat menjual. Karena tambahan PPh final itu, fee jual selalu lebih besar dari fee beli, umumnya sekitar 0,25%-0,29% untuk jual dan 0,15%-0,19% untuk beli, meski angka pastinya berbeda tiap sekuritas. Bagi trader aktif, selisih fee 0,1% saja bisa menggerus cuan, jadi memilih sekuritas berkomisi rendah sangat berpengaruh.

Banyak investor pemula kaget ketika saldo setelah menjual saham ternyata lebih kecil dari perkiraan. Penyebabnya bukan cuma pergerakan harga, melainkan tumpukan biaya transaksi yang jarang dijelaskan gamblang di aplikasi. Artikel ini membedah tiap lapisan biaya beli-jual saham di Indonesia, alasan fee jual lebih mahal, dan cara menekannya supaya keuntunganmu tidak bocor pelan-pelan.

Apa saja komponen biaya transaksi saham?

Setiap kali kamu membeli atau menjual saham lewat aplikasi sekuritas, ada beberapa lapis biaya yang menempel pada nilai transaksi:

  • Fee broker (komisi sekuritas). Imbalan untuk perusahaan sekuritas yang menyediakan platform dan mengeksekusi order kamu. Ini komponen terbesar dan paling bervariasi antar broker.
  • Levy (biaya bursa). Biaya wajib yang disetor ke penyelenggara pasar modal: Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Totalnya kecil, sekitar 0,04% dari nilai transaksi, dan sama untuk semua investor.
  • PPN. Pajak Pertambahan Nilai yang dikenakan atas komisi broker dan levy (bukan atas seluruh nilai transaksi), mengikuti tarif yang berlaku. Cek angka terkini karena tarif PPN sempat berubah.
  • PPh final penjualan. Pajak Penghasilan final sebesar 0,1% dari nilai jual bruto, dan hanya dikenakan saat kamu menjual saham. Inilah biang kerok mengapa fee jual lebih tinggi.

Karena komisi broker berbeda-beda dan tarif pajak bisa berubah, selalu buka rincian biaya di aplikasi sekuritasmu atau situs resmi bursa untuk angka paling mutakhir. Istilah teknis seperti levy dan settlement bisa kamu telusuri di glosarium.

Berapa total fee beli dan jual saham?

Gabungan semua komponen di atas menghasilkan fee "all-in" yang biasanya sudah otomatis dipotong sistem. Kisaran umum di pasar Indonesia kira-kira seperti berikut, walau tiap sekuritas menetapkan angkanya sendiri:

KomponenSaat beliSaat jual
Fee broker + levy + PPN~0,15% - 0,19%~0,15% - 0,19%
PPh final penjualan-0,1%
Total perkiraan~0,15% - 0,19%~0,25% - 0,29%

Contoh sederhana dengan asumsi fee beli 0,15% dan fee jual 0,25%:

  • Beli saham senilai Rp 10.000.000: fee Rp 15.000, total uang keluar Rp 10.015.000.
  • Jual di harga sama Rp 10.000.000: fee Rp 25.000, uang masuk Rp 9.975.000.

Sekali putar (beli lalu jual) pada harga yang sama, kamu sudah rugi sekitar Rp 40.000 atau 0,4% hanya dari biaya. Artinya harga saham harus naik minimal 0,4% dulu supaya kamu balik modal. Inilah yang sering disebut titik impas (break-even).

Kenapa fee jual saham lebih besar daripada fee beli?

Jawabannya satu kata: pajak. Fee beli dan fee jual sebenarnya memakai komponen yang sama (komisi, levy, dan PPN). Yang membedakan hanyalah PPh final 0,1% yang menempel eksklusif pada sisi penjualan.

Aturan ini berlaku merata untuk semua transaksi penjualan saham di bursa, tanpa memandang kamu untung atau rugi, karena dihitung dari nilai jual bruto dan bukan dari keuntungan. Jadi kalaupun kamu menjual dalam kondisi merugi, PPh final 0,1% tetap dipungut. Saham pendiri saat IPO punya tarif tambahan tersendiri, tapi ini tidak relevan untuk investor ritel biasa.

Bagaimana cara memilih sekuritas dengan fee termurah?

Karena komisi broker adalah komponen yang bisa kamu kendalikan, di sinilah penghematan terbesar berada. Beberapa langkah praktis:

  • Bandingkan fee beli dan fee jual secara terpisah. Broker sering memasang fee beli rendah tapi fee jual lebih tinggi. Hitung keduanya, jangan hanya melihat satu angka.
  • Cek minimum fee. Sebagian sekuritas menetapkan biaya minimum per transaksi. Biaya ini menggerus persentase lebih besar jika nilai transaksimu kecil.
  • Perhatikan fasilitas, bukan cuma harga. Fee ultra murah kadang datang dengan aplikasi yang sering error, riset terbatas, atau layanan pelanggan lambat. Untuk investor jangka panjang, keandalan lebih berharga daripada selisih 0,03%.
  • Pastikan terdaftar dan diawasi OJK. Cek legalitas sekuritas di situs resmi OJK sebelum menyetor dana.

Singkatnya: untuk trader aktif yang bolak-balik transaksi, fee serendah mungkin adalah prioritas utama; untuk investor jangka panjang yang jarang bertransaksi, selisih fee kecil kalah penting dibanding keandalan platform dan legalitas. Pelajari dulu dasar-dasar berinvestasi di hub investasi sebelum memburu broker termurah.

Seberapa besar dampak fee ke cuan trader aktif?

Untuk investor beli-tahan (buy and hold), fee cuma dibayar sekali di awal dan sekali saat menjual bertahun kemudian, jadi dampaknya kecil. Ceritanya berbeda untuk trader aktif.

Bayangkan seorang trader melakukan 20 kali putaran transaksi dalam sebulan. Dengan fee round-trip 0,4%, total biaya yang dibayar mencapai sekitar 8% dari modal yang diputar dalam sebulan itu, sebelum menghitung untung-rugi harga. Inilah alasan banyak trader harian sebenarnya kalah bukan karena salah menebak arah, melainkan karena tergerus biaya dan pajak yang menumpuk. Semakin sering bertransaksi, semakin fee mengubah strategi yang tampak menguntungkan di atas kertas menjadi merugi di rekening.

Apa bedanya fee saham dengan expense ratio reksa dana?

Ini sering membingungkan pemula. Keduanya sama-sama "biaya investasi", tapi bekerja dengan cara berbeda:

AspekFee transaksi sahamExpense ratio reksa dana
Kapan dibayarSetiap kali beli/jualSetiap hari, otomatis dari NAB
SifatSekali per transaksiBerulang (tahunan)
BasisPersentase nilai transaksiPersentase dana kelolaan per tahun
Yang menerimaSekuritas, bursa, dan negaraManajer investasi

Pada saham, kamu membayar di muka tiap transaksi lalu tidak ada potongan rutin selama memegangnya. Pada reksa dana, tidak ada fee transaksi eksplisit seperti itu, tapi ada biaya pengelolaan tahunan (expense ratio) yang dipotong diam-diam dari Nilai Aktiva Bersih setiap hari. Kalau kamu ingin membandingkan hasil bersih reksa dana setelah biaya, kalkulator reksa dana bisa membantu simulasinya.

Intinya, saham menghukum transaksi yang terlalu sering, sementara reksa dana menghukum expense ratio yang tinggi dalam jangka panjang. Keduanya perlu kamu perhitungkan sesuai gaya investasimu.


Artikel ini bersifat edukasi umum, bukan nasihat investasi atau pajak personal; verifikasi tarif dan ketentuan terbaru pada sumber resmi sebelum mengambil keputusan.

Sumber: Bursa Efek Indonesia (idx.co.id), Otoritas Jasa Keuangan (ojk.go.id), Direktorat Jenderal Pajak (pajak.go.id).

Pertanyaan yang sering ditanya

Apakah PPh final 0,1% tetap dipotong kalau saya menjual saham dalam kondisi rugi?

Ya. PPh final penjualan saham dihitung dari nilai jual bruto, bukan dari keuntungan, sehingga tetap dipungut walaupun kamu menjual dalam kondisi rugi. Ini berbeda dari pajak yang hanya mengenai laba.

Apakah fee transaksi saham dipotong otomatis?

Ya. Seluruh komponen biaya (komisi broker, levy, PPN, dan PPh final) langsung dihitung dan dipotong oleh sistem sekuritas saat transaksi diselesaikan, jadi kamu tidak perlu menyetor pajaknya secara terpisah.

Apakah dividen kena biaya yang sama dengan transaksi jual-beli saham?

Tidak. Dividen punya perlakuan pajak tersendiri yang terpisah dari fee transaksi. Fee beli-jual tidak berlaku saat kamu menerima dividen. Cek ketentuan pajak dividen terbaru di situs Direktorat Jenderal Pajak.

Referensi resmi

Diakses 21 September 2026.

Catatan pentingArtikel ini bersifat edukatif, bukan nasihat keuangan individual. Pertimbangan produk, regulasi, dan suku bunga bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk keputusan besar, konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat atau lembaga resmi yang relevan. Baca selengkapnya di Disclaimer Keuangan.

Artikel terkait di Investasi