Lewati ke konten utama
Panduan Keuangan

Cara atur THR agar tidak habis dalam seminggu

THR sering habis sebelum Lebaran usai. Pelajari cara membagi THR dengan formula sederhana agar ada yang ditabung, bukan cuma untuk konsumsi sesaat.

Oleh Redaksi Panduan KeuanganDiperbarui 13 Juni 2026
Cara atur THR agar tidak habis dalam seminggu

Ringkasan: THR sering ludes dalam seminggu karena tidak ada rencana alokasi sejak awal. Kuncinya adalah membagi THR ke dalam pos-pos jelas begitu uang masuk: dahulukan kewajiban (utang, zakat), sisihkan tabungan minimal 20-30%, baru sisanya untuk kebutuhan Lebaran. Pisahkan rekening tabungan dari rekening belanja agar tidak tergerus tanpa sadar.

Setiap menjelang Lebaran, jutaan pekerja di Indonesia menerima Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar satu bulan gaji atau lebih. Sayangnya, banyak yang merasa THR "menguap" hanya dalam hitungan hari, tertelan baju baru, oleh-oleh, angpau, dan biaya mudik. Padahal THR adalah kesempatan langka untuk memperbaiki kondisi keuangan, asal diatur sejak detik pertama uang masuk rekening.

Kenapa THR cepat habis

Penyebabnya hampir selalu sama: tidak ada rencana sebelum uang datang. Saldo besar di rekening menciptakan ilusi kelapangan, sehingga pengeluaran membengkak tanpa terasa. Ditambah tekanan sosial Lebaran (harus bagi angpau, harus beli baju seragam keluarga, harus traktir), pengeluaran mudah lepas kendali. Solusinya bukan menahan diri saat belanja, melainkan membagi uang lebih dulu sebelum godaan datang.

Bagi THR begitu masuk rekening

Begitu THR cair, langsung pecah ke beberapa pos. Berikut contoh formula yang bisa disesuaikan, misalnya untuk THR sebesar Rp 6 juta:

PosPersentaseNominal
Kewajiban (utang, zakat fitrah, zakat mal)25%Rp 1.500.000
Tabungan / dana darurat25%Rp 1.500.000
Kebutuhan Lebaran (makanan, baju)20%Rp 1.200.000
THR keluarga & angpau15%Rp 900.000
Biaya mudik (transport, bensin)15%Rp 900.000

Angka ini fleksibel. Yang penting, tabungan dan kewajiban dipisahkan lebih dulu sebelum pos konsumtif. Pindahkan porsi tabungan ke rekening atau reksa dana pasar uang terpisah pada hari yang sama, supaya tidak ikut terpakai.

Dahulukan utang berbunga tinggi

Jika Anda memegang utang paylater, kartu kredit, atau pinjaman online dengan bunga tinggi, gunakan THR untuk melunasinya lebih dulu. Bunga paylater dan kartu kredit bisa setara 24-43% per tahun. Tidak ada instrumen tabungan yang sanggup mengejar angka itu, jadi melunasi utang sama saja dengan mendapatkan "return" sebesar bunga yang Anda hindari. Ini langkah paling menguntungkan secara matematis.

Jangan lupa zakat

Bagi yang muslim, sebagian THR memang dialokasikan untuk zakat fitrah dan, bila harta sudah mencapai nisab dan haul, zakat mal. Memasukkan zakat sebagai pos tetap di awal mencegahnya menjadi beban dadakan di akhir Ramadan. Ini juga bagian dari mengelola uang secara terencana, bukan reaktif.

Sisihkan untuk dana darurat dulu, baru gaya hidup

Bagi yang dana daruratnya belum penuh (idealnya 3-6 kali pengeluaran bulanan), THR adalah suntikan besar yang sayang dilewatkan. Memasukkan Rp 1,5 juta dari THR ke dana darurat mungkin terasa kurang "terasa" dibanding beli gawai baru, tetapi dampaknya jauh lebih besar saat keadaan darurat tiba. Letakkan dana darurat di instrumen likuid seperti tabungan terpisah, deposito, atau reksa dana pasar uang.

Belanja Lebaran dengan daftar, bukan dengan mood

Untuk pos konsumtif, pakai disiplin sederhana:

  • Buat daftar belanja sebelum ke pasar atau buka aplikasi belanja, lalu patuhi.
  • Tetapkan plafon angpau per orang sejak awal, misalnya Rp 50 ribu untuk keponakan, supaya tidak membengkak.
  • Manfaatkan promo, tetapi hanya untuk barang yang memang ada di daftar, bukan karena tergoda diskon.
  • Hindari paylater untuk belanja Lebaran, karena utangnya baru terasa berat setelah euforia usai.

Tindakan praktis saat THR cair

  1. Hari pertama: pindahkan porsi tabungan dan dana darurat ke rekening terpisah.
  2. Hari pertama juga: bayar zakat dan lunasi utang berbunga tinggi.
  3. Buat amplop digital atau fisik untuk tiap pos konsumtif: belanja, angpau, mudik.
  4. Catat pengeluaran selama masa Lebaran agar tahu ke mana uang pergi.
  5. Evaluasi setelah Lebaran: berapa yang berhasil disimpan, dan pelajaran apa untuk tahun depan.

THR yang diatur dengan rencana sejak awal bisa menjadi pondasi keuangan, bukan sekadar pesta sesaat. Membagi uang lebih dulu sebelum godaan datang adalah cara paling sederhana namun paling ampuh agar THR tidak habis dalam seminggu.

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (ojk.go.id), Direktorat Jenderal Pajak (pajak.go.id)

Pertanyaan yang sering ditanya

Berapa idealnya THR yang ditabung?

Tidak ada angka mutlak, tetapi banyak perencana keuangan menyarankan minimal 20-30% THR langsung disisihkan ke tabungan atau dana darurat sebelum dipakai belanja. Untuk yang punya utang berbunga tinggi, porsi pelunasan utang bisa didahulukan bahkan sampai 40-50%. Sisanya baru dialokasikan untuk THR keluarga, mudik, dan kebutuhan Lebaran.

Apakah THR kena pajak?

Ya. THR termasuk objek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 karena dianggap penghasilan tidak teratur yang menambah penghasilan bruto setahun. Itu sebabnya THR yang Anda terima sudah dipotong pajak oleh perusahaan. Besarnya potongan tergantung total penghasilan setahun dan status PTKP Anda sesuai aturan Direktorat Jenderal Pajak.

Lebih baik THR ditabung atau langsung dipakai melunasi utang?

Jika Anda punya utang konsumtif berbunga tinggi seperti paylater atau kartu kredit (bunga setara 24-43% per tahun), melunasinya lebih menguntungkan daripada menabung. Tidak ada instrumen tabungan yang return-nya bisa menyamai bunga utang sebesar itu. Setelah utang mahal lunas, barulah fokus mengisi dana darurat.

Catatan pentingArtikel ini bersifat edukatif, bukan nasihat keuangan individual. Pertimbangan produk, regulasi, dan suku bunga bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk keputusan besar, konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat atau lembaga resmi yang relevan. Baca selengkapnya di Disclaimer Keuangan.

Artikel terkait di Dana Darurat & Budgeting