Lewati ke konten utama
Panduan Keuangan

Cara atur THR agar tidak habis dalam seminggu

THR sering habis sebelum Lebaran usai. Pelajari cara membagi THR dengan formula sederhana plus contoh angka agar ada yang ditabung, bukan cuma konsumsi.

Oleh Fernandes
Daftar isi

Ringkasan: THR sering ludes dalam seminggu karena tidak ada rencana alokasi sejak awal. Kuncinya adalah membagi THR ke dalam pos-pos jelas begitu uang masuk: dahulukan kewajiban (utang, zakat), sisihkan tabungan minimal 20-30%, baru sisanya untuk kebutuhan Lebaran. Pisahkan rekening tabungan dari rekening belanja agar tidak tergerus tanpa sadar.

Setiap menjelang Lebaran, jutaan pekerja di Indonesia menerima Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar satu bulan gaji atau lebih. Sayangnya, banyak yang merasa THR "menguap" hanya dalam hitungan hari, tertelan baju baru, oleh-oleh, angpau, dan biaya mudik. Padahal THR adalah kesempatan langka untuk memperbaiki kondisi keuangan, asal diatur sejak detik pertama uang masuk rekening.

Kenapa THR cepat habis dalam seminggu?

Penyebabnya hampir selalu sama: tidak ada rencana sebelum uang datang. Saldo besar di rekening menciptakan ilusi kelapangan, sehingga pengeluaran membengkak tanpa terasa. Ditambah tekanan sosial Lebaran (harus bagi angpau, harus beli baju seragam keluarga, harus traktir), pengeluaran mudah lepas kendali. Solusinya bukan menahan diri saat belanja, melainkan membagi uang lebih dulu sebelum godaan datang.

Beberapa kesalahan yang paling sering membuat THR habis dalam seminggu:

  • Membiarkan THR tercampur dengan saldo gaji di satu rekening, sehingga sulit membedakan mana uang yang boleh dipakai dan mana yang seharusnya disimpan.
  • Menabung dari sisa, bukan menabung di depan. Kalau menabung baru dilakukan setelah semua belanja selesai, hampir selalu tidak ada sisanya.
  • Berbelanja mengikuti euforia, misalnya tergiur diskon besar atau gengsi tampil "wah" saat kumpul keluarga.
  • Menutup kekurangan dengan paylater, yang justru memindahkan beban ke bulan-bulan setelah Lebaran.

Berapa THR yang seharusnya Anda terima?

Sebelum mengatur, pastikan dulu Anda tahu hak THR sesuai aturan Kementerian Ketenagakerjaan. Secara umum, pekerja dengan masa kerja 12 bulan atau lebih berhak atas THR sebesar satu bulan upah. Pekerja dengan masa kerja 1 bulan sampai kurang dari 12 bulan menerima THR secara proporsional, yaitu masa kerja dibagi 12 lalu dikalikan satu bulan upah. THR juga wajib dibayarkan paling lambat 7 hari sebelum hari raya.

Ilustrasi proporsional: jika upah sebulan Anda Rp 4 juta dan masa kerja baru 6 bulan, maka THR = (6 / 12) x Rp 4.000.000 = Rp 2.000.000. Mengetahui angka ini sejak awal membantu Anda menyusun rencana yang realistis, bukan berandai-andai. Untuk perhitungan resmi dan kasus khusus (misalnya upah harian atau borongan), rujuk situs Kemnaker.

Bagaimana cara membagi THR begitu masuk rekening?

Begitu THR cair, langsung pecah ke beberapa pos. Berikut contoh formula yang bisa disesuaikan, misalnya untuk THR sebesar Rp 6 juta:

PosPersentaseNominal
Kewajiban (utang, zakat fitrah, zakat mal)25%Rp 1.500.000
Tabungan / dana darurat25%Rp 1.500.000
Kebutuhan Lebaran (makanan, baju)20%Rp 1.200.000
THR keluarga & angpau15%Rp 900.000
Biaya mudik (transport, bensin)15%Rp 900.000

Angka ini fleksibel. Yang penting, tabungan dan kewajiban dipisahkan lebih dulu sebelum pos konsumtif. Pindahkan porsi tabungan ke rekening atau reksa dana pasar uang terpisah pada hari yang sama, supaya tidak ikut terpakai.

Formula yang tepat sangat bergantung pada kondisi Anda. Yang punya utang berbunga tinggi sebaiknya menggeser porsi ke pelunasan utang; yang dana daruratnya masih kosong sebaiknya memperbesar porsi tabungan. Berikut perbandingan dua ilustrasi dengan THR Rp 6 juta:

PosPunya utang paylaterBebas utang, dana darurat kosong
Pelunasan utang40% (Rp 2.400.000)0%
Tabungan / dana darurat15% (Rp 900.000)40% (Rp 2.400.000)
Zakat & kewajiban lain10% (Rp 600.000)10% (Rp 600.000)
Kebutuhan & mudik Lebaran25% (Rp 1.500.000)35% (Rp 2.100.000)
THR keluarga & angpau10% (Rp 600.000)15% (Rp 900.000)

Intinya, pos yang paling mendesak untuk kondisi Anda selalu diisi lebih dulu, bukan belakangan.

Dahulukan utang berbunga tinggi

Jika Anda memegang utang paylater, kartu kredit, atau pinjaman online dengan bunga tinggi, gunakan THR untuk melunasinya lebih dulu. Bunga paylater dan kartu kredit bisa setara 24-43% per tahun. Tidak ada instrumen tabungan yang sanggup mengejar angka itu, jadi melunasi utang sama saja dengan mendapatkan "return" sebesar bunga yang Anda hindari. Ini langkah paling menguntungkan secara matematis.

Contoh: misal Anda punya sisa tagihan paylater Rp 2 juta dengan bunga setara sekitar 3% per bulan. Membiarkannya berjalan berarti menambah beban puluhan ribu rupiah setiap bulan, terus-menerus. Melunasinya dengan THR menghentikan aliran bunga itu seketika, dan uang yang tadinya habis untuk cicilan bisa dialihkan mengisi dana darurat bulan berikutnya.

Jangan lupa zakat

Bagi yang muslim, sebagian THR memang dialokasikan untuk zakat fitrah dan, bila harta sudah mencapai nisab dan haul, zakat mal. Memasukkan zakat sebagai pos tetap di awal mencegahnya menjadi beban dadakan di akhir Ramadan. Ini juga bagian dari mengelola uang secara terencana, bukan reaktif. Sisihkan nominalnya begitu THR masuk, sama seperti Anda memperlakukan tabungan, agar tidak tergoda memakainya lebih dulu.

Sisihkan untuk dana darurat dulu, baru gaya hidup

Bagi yang dana daruratnya belum penuh (idealnya 3-6 kali pengeluaran bulanan), THR adalah suntikan besar yang sayang dilewatkan. Memasukkan Rp 1,5 juta dari THR ke dana darurat mungkin terasa kurang "terasa" dibanding beli gawai baru, tetapi dampaknya jauh lebih besar saat keadaan darurat tiba. Letakkan dana darurat di instrumen likuid seperti tabungan terpisah, deposito, atau reksa dana pasar uang.

Anggap saja porsi tabungan ini sebagai "tagihan" yang wajib dibayar ke diri sendiri. Dengan memindahkannya di hari pertama, Anda mengunci kemenangan kecil yang tetap bertahan lama setelah euforia Lebaran mereda.

Belanja Lebaran dengan daftar, bukan dengan mood

Untuk pos konsumtif, pakai disiplin sederhana:

  • Buat daftar belanja sebelum ke pasar atau buka aplikasi belanja, lalu patuhi.
  • Tetapkan plafon angpau per orang sejak awal, misalnya Rp 50 ribu untuk keponakan, supaya tidak membengkak.
  • Manfaatkan promo, tetapi hanya untuk barang yang memang ada di daftar, bukan karena tergoda diskon.
  • Hindari paylater untuk belanja Lebaran, karena utangnya baru terasa berat setelah euforia usai.
  • Bandingkan harga tiket mudik jauh-jauh hari, karena tarif transportasi cenderung melonjak mendekati hari raya.

Bagaimana kalau THR tidak cukup untuk semua kebutuhan?

Kondisi ini sangat wajar, apalagi jika masa kerja Anda masih pendek sehingga THR-nya proporsional. Kuncinya adalah menurunkan ekspektasi, bukan menambah utang. Urutkan pos dari yang paling penting: kewajiban (zakat dan utang mendesak) lebih dulu, lalu kebutuhan pokok mudik dan Lebaran, baru hal-hal yang sifatnya gengsi seperti baju baru atau angpau besar.

Kalau harus memangkas, pangkas dari pos konsumtif yang paling tidak mendesak. Baju lama masih layak, angpau bisa dikecilkan nominalnya, dan mudik bisa memilih moda yang lebih murah. Menahan diri satu tahun jauh lebih ringan daripada menanggung cicilan paylater sepanjang tahun berikutnya. Meski begitu, tetap usahakan ada porsi kecil, sekecil apa pun, yang masuk ke tabungan agar kebiasaan menyisihkan tidak terputus.

Tindakan praktis saat THR cair

  1. Hari pertama: pindahkan porsi tabungan dan dana darurat ke rekening terpisah.
  2. Hari pertama juga: bayar zakat dan lunasi utang berbunga tinggi.
  3. Buat amplop digital atau fisik untuk tiap pos konsumtif: belanja, angpau, mudik.
  4. Catat pengeluaran selama masa Lebaran agar tahu ke mana uang pergi.
  5. Evaluasi setelah Lebaran: berapa yang berhasil disimpan, dan pelajaran apa untuk tahun depan.

THR yang diatur dengan rencana sejak awal bisa menjadi pondasi keuangan, bukan sekadar pesta sesaat. Membagi uang lebih dulu sebelum godaan datang adalah cara paling sederhana namun paling ampuh agar THR tidak habis dalam seminggu.

Panduan ini bersifat umum. Sesuaikan setiap porsi dengan kondisi keuangan, kewajiban, dan tanggungan Anda masing-masing, dan pastikan hak serta potongan pajak THR mengikuti aturan resmi yang berlaku.

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (ojk.go.id), Direktorat Jenderal Pajak (pajak.go.id), Kementerian Ketenagakerjaan (kemnaker.go.id)

Pertanyaan yang sering ditanya

Berapa idealnya THR yang ditabung?

Tidak ada angka mutlak, tetapi banyak perencana keuangan menyarankan minimal 20-30% THR langsung disisihkan ke tabungan atau dana darurat sebelum dipakai belanja. Untuk yang punya utang berbunga tinggi, porsi pelunasan utang bisa didahulukan bahkan sampai 40-50%. Sisanya baru dialokasikan untuk THR keluarga, mudik, dan kebutuhan Lebaran.

Apakah THR kena pajak?

Ya. THR termasuk objek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 karena dianggap penghasilan tidak teratur yang menambah penghasilan bruto setahun. Itu sebabnya THR yang Anda terima sudah dipotong pajak oleh perusahaan. Besarnya potongan tergantung total penghasilan setahun dan status PTKP Anda sesuai aturan Direktorat Jenderal Pajak.

Lebih baik THR ditabung atau langsung dipakai melunasi utang?

Jika Anda punya utang konsumtif berbunga tinggi seperti paylater atau kartu kredit (bunga setara 24-43% per tahun), melunasinya lebih menguntungkan daripada menabung. Tidak ada instrumen tabungan yang return-nya bisa menyamai bunga utang sebesar itu. Setelah utang mahal lunas, barulah fokus mengisi dana darurat.

Referensi resmi

Diakses 13 Juli 2026.

Catatan pentingArtikel ini bersifat edukatif, bukan nasihat keuangan individual. Pertimbangan produk, regulasi, dan suku bunga bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk keputusan besar, konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat atau lembaga resmi yang relevan. Baca selengkapnya di Disclaimer Keuangan.

Artikel terkait di Dana Darurat & Budgeting