Lewati ke konten utama
Panduan Keuangan
Asuransi4 menit baca

Asuransi kendaraan motor: wajib atau tidak menurut OJK?

Penjelasan status asuransi motor di Indonesia menurut OJK. Bedanya TLO vs all risk, premi rata-rata, dan kapan asuransi motor benar-benar diperlukan.

Oleh Redaksi Panduan KeuanganDiperbarui 1 Juni 2026
Asuransi kendaraan motor: wajib atau tidak menurut OJK?

Ringkasan: Menurut OJK, asuransi motor swasta tidak wajib bagi pemilik perorangan. Yang wajib adalah SWDKLLJ yang sudah otomatis di STNK. Asuransi pilihan dibutuhkan jika motor mahal, sering dipakai di area rawan, atau motor kredit (wajib leasing).

Banyak pemilik motor di Indonesia bingung soal status asuransi kendaraan. Apakah wajib? Apakah cukup hanya bayar pajak STNK? Mari kita uraikan berdasarkan regulasi OJK dan kebutuhan nyata.

Yang Wajib vs Yang Opsional

Di Indonesia, ada dua jenis "asuransi" terkait kendaraan bermotor:

1. SWDKLLJ (Wajib)

Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) dikelola oleh PT Jasa Raharja. Ini wajib dan sudah masuk dalam pembayaran STNK tahunan Anda. Untuk motor, besarannya sekitar Rp35.000/tahun.

Manfaat: santunan kematian/cacat untuk korban kecelakaan lalu lintas (bukan untuk kerusakan kendaraan). Plafond santunan kematian saat ini Rp50 juta.

2. Asuransi Kendaraan Swasta (Opsional)

Asuransi yang ditawarkan perusahaan asuransi seperti Sinarmas, Astra, ACA, Tugu Mandiri, dan lainnya. Sifatnya opsional menurut OJK, kecuali untuk motor yang dibeli secara kredit (diwajibkan oleh leasing).

Jenis Asuransi Motor: TLO vs All Risk

Dua produk utama asuransi motor di pasar Indonesia:

Total Loss Only (TLO)

Mengganti kerugian hanya jika kerusakan mencapai 75% atau lebih dari nilai motor, atau hilang akibat pencurian. Kerusakan kecil (lecet, penyok) tidak ditanggung.

  • Premi: 0,9% - 1,5% dari nilai motor per tahun
  • Cocok untuk: Motor di atas 3 tahun, area aman, untuk proteksi pencurian utamanya

Comprehensive (All Risk)

Menanggung segala bentuk kerusakan dari lecet ringan, penyok, sampai total loss dan pencurian. Lebih luas tetapi premi jauh lebih mahal.

  • Premi: 2,5% - 4% dari nilai motor per tahun
  • Cocok untuk: Motor baru, motor mahal (>Rp30 juta), dipakai harian di kota besar

Tabel Perbandingan Premi Asuransi Motor

Contoh untuk motor seharga Rp25.000.000:

JenisPremi/tahunYang Ditanggung
TLORp225.000 - 375.000Hilang/rusak ≥75%
All RiskRp625.000 - 1.000.000Semua kerusakan + hilang
TLO + BanjirRp275.000 - 425.000TLO + risiko banjir
All Risk + BanjirRp675.000 - 1.100.000Semua + banjir

Premi pasti dipengaruhi merek motor, area parkir, dan riwayat klaim.

Kapan Asuransi Motor Worth It?

Asuransi motor masuk akal secara finansial jika:

1. Motor masih baru atau mahal (>Rp25 juta) Kehilangan motor baru bisa membuat keuangan goyah, terlebih jika masih kredit.

2. Tinggal di area rawan pencurian Data Polri menunjukkan tingkat curanmor tinggi di Jakarta, Bekasi, Surabaya, dan kota besar lain. Asuransi memberi safety net.

3. Motor kredit Wajib dari leasing. Premi sudah otomatis dimasukkan ke cicilan kredit.

4. Sering dipakai jarak jauh Risiko kecelakaan, kerusakan, dan kehilangan lebih tinggi untuk pemakaian intensif.

Kapan Asuransi Motor Tidak Perlu?

1. Motor lama (>5 tahun) dan nilai rendah Motor Rp5 juta dengan premi Rp75.000/tahun setelah 10 tahun = Rp750.000. Sebaiknya alokasikan ke tabungan untuk motor baru.

2. Parkir aman (garasi rumah/kantor) Risiko pencurian rendah, ROI asuransi turun.

3. Sangat jarang dipakai Motor weekend yang dipakai 2-3 kali sebulan menghasilkan paparan risiko minimal.

Cara Memilih Asuransi Motor

1. Cek Legalitas di OJK

Hanya pilih perusahaan asuransi yang terdaftar dan diawasi OJK. Cek di laman ojk.go.id pada menu "Daftar Perusahaan Asuransi". Jangan tergiur premi murah dari perusahaan tidak jelas.

2. Pahami Pengecualian Polis

Hal yang umumnya tidak ditanggung:

  • Kerusakan akibat kelalaian pengendara (mabuk, ngebut tanpa SIM)
  • Bencana alam (kecuali ditambahkan rider khusus)
  • Modifikasi non-standar pabrik
  • Pencurian yang tidak dilaporkan ke polisi dalam 3x24 jam

3. Bandingkan Jaringan Bengkel Rekanan

Asuransi besar punya jaringan bengkel rekanan luas. Cek apakah ada bengkel rekanan dekat domisili Anda. Klaim di bengkel rekanan biasanya lebih cepat dan tidak perlu bayar dulu.

4. Hitung Own Risk

Own risk (OR) adalah biaya yang harus Anda tanggung per klaim. Standar Rp250.000-500.000 per klaim. Semakin tinggi OR yang Anda pilih, semakin rendah premi.

Cara Klaim Asuransi Motor

  1. Laporkan kejadian ke perusahaan asuransi maksimal 5x24 jam (cek di polis)
  2. Buat berita acara polisi jika kecelakaan/kehilangan
  3. Foto kerusakan dari berbagai sudut
  4. Bawa motor ke bengkel rekanan
  5. Survey oleh tim asuransi akan dilakukan
  6. Persetujuan klaim keluar dalam 7-14 hari kerja

Kesimpulan Praktis

Asuransi motor tidak wajib menurut OJK, tetapi sangat dianjurkan untuk motor kredit, motor baru/mahal, dan area rawan. Untuk motor lama atau jarang dipakai, dana premi lebih baik dialokasikan ke dana darurat atau investasi.

Hitung dengan cermat: jika premi tahunan x usia ekonomis motor sudah hampir setara nilai motor, asuransi tidak ekonomis. Selalu pilih perusahaan terdaftar OJK dan baca polis sebelum tanda tangan.

Sumber: OJK.go.id, jasaraharja.co.id, POJK Nomor 7/2024 tentang Penyelenggaraan Usaha Asuransi

Pertanyaan yang sering ditanya

Apakah asuransi motor wajib menurut undang-undang?

Tidak wajib untuk pemilik perorangan. Yang wajib adalah SWDKLLJ (Jasa Raharja) yang sudah masuk biaya STNK tahunan. Asuransi swasta sifatnya opsional.

Berapa biaya asuransi motor per tahun?

Untuk TLO, premi sekitar 0,9-1,5% dari nilai motor. Motor Rp25 juta = premi Rp225.000-375.000/tahun. All risk lebih mahal, 2,5-4% dari nilai motor.

Apakah motor kredit wajib diasuransikan?

Ya, leasing/bank umumnya mewajibkan asuransi motor kredit selama masa cicilan. Premi biasanya sudah dimasukkan dalam total kredit di awal.

Catatan pentingArtikel ini bersifat edukatif, bukan nasihat keuangan individual. Pertimbangan produk, regulasi, dan suku bunga bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk keputusan besar, konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat atau lembaga resmi yang relevan. Baca selengkapnya di Disclaimer Keuangan.