Lewati ke konten utama
Panduan Keuangan
Kredit7 menit baca

Kartu kredit syariah vs konvensional: akad, biaya, denda

Perbedaan kartu kredit syariah dan konvensional dari sisi akad, biaya bulanan, ujrah, dan denda keterlambatan. Plus simulasi total biaya 1 tahun.

Oleh Redaksi Panduan Keuangan
Daftar isi

Ringkasan: Kartu kredit syariah tidak gunakan bunga (riba), tapi menggantinya dengan ujrah (fee) dan ta'widh (ganti rugi). Total biaya bisa sebanding, lebih murah, atau lebih mahal dibanding konvensional tergantung pola pemakaian. Yang penting Anda paham strukturnya sebelum memilih.

Di Indonesia, kartu kredit syariah ditawarkan oleh bank-bank seperti BSI, CIMB Niaga Syariah, BCA Syariah, dan Permata Syariah. Produk ini fungsinya sama dengan kartu kredit konvensional, bisa dipakai untuk transaksi di mesin EDC, online, dan luar negeri. Yang berbeda adalah struktur akad dan biaya. Pemahaman tentang struktur ini menentukan apakah produk syariah lebih menguntungkan untuk Anda atau tidak.

Apa bedanya akad bunga dan ujrah?

Kartu kredit konvensional menggunakan akad pinjam-meminjam dengan bunga (riba). Saat Anda tidak bayar tagihan penuh, sisa tagihan dikenakan bunga maksimum 1,75% per bulan (sekitar 21% per tahun) sesuai ketentuan Bank Indonesia (PBI 14/2/PBI/2012 dan Surat Edaran BI) yang mengatur batas atas bunga kartu kredit. Perlu dicatat, batas bunga ini bisa diperbarui oleh regulator dari waktu ke waktu, jadi selalu cek angka terbaru di situs resmi BI dan OJK.

Kartu kredit syariah menggunakan akad kafalah (penjaminan) untuk transaksi, qardh (pinjaman tanpa imbalan) untuk fasilitas cash advance, dan ijarah (sewa jasa) untuk biaya bulanan. Bank syariah tidak boleh menambah jumlah utang berdasarkan waktu, sehingga tidak ada bunga yang beranak-pinak.

Sebagai gantinya, bank syariah menarik:

  • Ujrah/fee bulanan: biaya tetap per bulan untuk jasa penggunaan kartu, biasanya Rp 30.000-100.000 tergantung limit kartu. Umumnya dihitung dari limit, bukan dari sisa tagihan Anda.
  • Ta'widh: ganti rugi keterlambatan pembayaran, ditetapkan sebagai nominal tetap, bukan persentase yang membesar.
  • Margin (untuk cicilan): ditetapkan di awal dengan akad murabahah, sehingga total yang Anda bayar sudah dikunci sejak akad.

Bedanya paling terasa saat tagihan menunggak. Pada konvensional, biaya menempel pada sisa utang dan ikut membesar. Pada syariah, ujrah cenderung tetap karena melekat pada limit dan jasa, bukan pada besar tunggakan.

Simulasi: belanja Rp 5 juta, bayar minimum 10%

Misalkan Anda belanja Rp 5 juta lalu hanya bayar 10% (Rp 500.000) di bulan pertama dan seterusnya. Berikut perbandingan gambaran biaya tambahan untuk 12 bulan:

KomponenKartu konvensionalKartu syariah (contoh BSI Hasanah Card)
Bunga (1,75%/bulan)~Rp 605.000Tidak ada
Ujrah/fee bulananRp 0 (jika minimal transaksi terpenuhi)Rp 35.000 x 12 = Rp 420.000
Denda keterlambatanVariatif per bank (umumnya sekitar 1% dari sisa tagihan, dibatasi Rp 100.000/bulan)Ta'widh tetap (variatif per bank)
Iuran tahunanRp 150.000-500.000Sering dibundling ke ujrah
Total biaya tambahan~Rp 700.000-900.000~Rp 420.000-600.000

Dengan pola pemakaian seperti ini (bayar minimum saja, utang besar menggantung), kartu syariah cenderung lebih murah karena tidak ada efek compound bunga.

Ilustrasi pola sebaliknya: Andi belanja Rp 5 juta tapi selalu bayar lunas sebelum jatuh tempo. Di kartu konvensional, bunga tidak pernah aktif, dan jika kartunya bebas iuran tahunan, biaya tahunannya bisa mendekati Rp 0. Di kartu syariah dengan ujrah Rp 35.000 per bulan, Andi tetap membayar sekitar Rp 420.000 setahun karena ujrah ditarik dari limit, bukan dari utang. Untuk profil disiplin seperti Andi, konvensional justru lebih murah.

Kesimpulan sederhananya: makin sering Anda menunggak, makin menguntungkan syariah; makin disiplin Anda melunasi, makin menguntungkan konvensional.

Berapa biaya tahunan dan biaya lain yang perlu dicek?

Selain biaya utama di atas, periksa juga pos-pos berikut sebelum memutuskan:

Iuran tahunan

Kartu konvensional: Rp 150.000-1 juta (sering ada promo bebas iuran tahun pertama). Kartu syariah: rata-rata Rp 120.000-500.000, beberapa membundling sebagai bagian ujrah sehingga tidak muncul sebagai pos terpisah.

Fee tarik tunai

Konvensional: 4-6% atau minimal Rp 50.000. Syariah: ujrah qardh tetap Rp 25.000-80.000 per transaksi. Karena qardh adalah pinjaman tanpa imbalan, biaya yang ditarik hanya jasa administrasi, bukan persentase yang membesar dengan nominal tarikan.

Fee transaksi luar negeri

Konvensional: 2,5-3,5% dari nilai transaksi. Syariah: mirip, 2,5-3% sebagai biaya konversi mata uang. Untuk pos ini, kedua jenis kartu praktis setara.

Reward dan cashback

Konvensional: lebih bervariasi, banyak program poin, miles, cashback hingga 5%. Syariah: lebih terbatas, biasanya cashback flat 1-2% atau diskon merchant tertentu yang sesuai prinsip syariah. Jika reward adalah prioritas utama Anda, hitung nilai reward tahunan dan bandingkan dengan selisih biaya, jangan hanya melihat angka persentase.

Mengapa denda keterlambatan jadi pembeda terbesar?

Di kartu konvensional, keterlambatan kena bunga ditambah denda keterlambatan yang besarannya variatif per bank. Batas atas yang diizinkan regulator adalah 3% dari sisa tagihan atau Rp 150.000 (mana yang lebih rendah), namun banyak bank kini menerapkan sekitar 1% dan membatasinya di kisaran Rp 100.000 per bulan. Bunga ini terus berbunga (compound) selama tunggakan berlanjut, sehingga beban bisa membengkak jika telat beberapa bulan berturut-turut.

Di kartu syariah, denda diatur sebagai ta'widh: ganti rugi atas kerugian riil bank, bukan tambahan keuntungan. Nominalnya tetap (misal Rp 25.000-100.000 per bulan tergantung bank), dan tidak berbunga atas tunggakan sebelumnya. Dari sisi pengguna yang sering telat bayar, struktur ini secara objektif lebih murah dalam jangka menengah hingga panjang.

Contoh telat 3 bulan atas sisa tagihan Rp 4,5 juta: di konvensional, tiap bulan muncul bunga sekitar 1,75% dari sisa yang terus bertambah, ditambah denda hingga Rp 100.000, sehingga totalnya bisa menembus ratusan ribu rupiah dan terus naik. Di syariah, ta'widh tetap, misalnya Rp 75.000 per bulan, sehingga tiga bulan hanya sekitar Rp 225.000 tanpa efek berbunga. Selisihnya menjadi nyata justru ketika keuangan Anda sedang sulit.

Beberapa bank syariah juga menerapkan kebijakan denda yang disumbangkan ke dana sosial; bank tidak mengakui denda sebagai pendapatan.

Kesalahan umum yang perlu dihindari

Banyak calon pemegang kartu salah menilai produk syariah. Hindari jebakan berikut:

  1. Mengira "syariah" otomatis berarti "gratis" atau "pasti lebih murah". Ujrah tetap biaya nyata yang harus Anda bayar meski tidak menunggak.
  2. Hanya membandingkan satu pos biaya. Membandingkan bunga lawan ujrah saja menyesatkan; bandingkan total biaya kepemilikan setahun.
  3. Mengabaikan pola pembayaran sendiri. Jawaban paling menentukan bukan soal produk, melainkan apakah Anda tipe pelunas disiplin atau pembayar minimum.
  4. Menggunakan kartu syariah untuk transaksi yang melanggar prinsipnya. Sistem membolehkan secara teknis, tapi ini menggugurkan alasan utama memilih produk syariah.

Untuk siapa kartu kredit syariah cocok?

Kartu syariah cocok jika:

  1. Anda berkomitmen pada prinsip syariah: alasan utama, bukan sekadar hitungan rupiah.
  2. Anda cenderung sulit bayar lunas tepat waktu: struktur tanpa bunga compound lebih melindungi.
  3. Anda butuh kepastian biaya: ujrah dan ta'widh nominal tetap, lebih mudah diprediksi tiap bulan.

Kartu konvensional masih relevan jika:

  1. Anda disiplin bayar lunas tiap bulan: bunga tidak pernah aktif, sehingga manfaat reward maksimal.
  2. Anda butuh fitur premium tertentu: lounge bandara, asuransi perjalanan internasional, dan sejenisnya masih lebih lengkap di kartu konvensional.
  3. Anda sering belanja merchant mainstream: promo cashback dan miles lebih banyak.

Rekomendasi praktis

Sebelum apply, tanyakan ke bank dokumen tarif lengkap (tidak boleh disembunyikan). Gunakan checklist singkat ini:

  • Minta rincian ujrah bulanan dan apakah dihitung dari limit atau tagihan.
  • Tanyakan nominal ta'widh per bulan dan apakah ada dana sosial.
  • Cek iuran tahunan, fee tarik tunai, dan fee transaksi luar negeri.
  • Hitung total biaya setahun untuk dua skenario: selalu lunas dan sering bayar minimum.
  • Bandingkan angka itu, bukan sekadar label bunga atau ujrah.

OJK mewajibkan bank menyajikan komparasi biaya yang transparan; Anda berhak meminta dokumen ini. Kalau ragu, mulai dari kartu dengan limit kecil (Rp 5-10 juta) di jenis yang paling sesuai, lalu evaluasi setelah 3-6 bulan.

Artikel ini bersifat edukasi umum dan bukan nasihat keuangan pribadi. Ketentuan, tarif, dan biaya tiap bank dapat berubah, jadi konfirmasikan detail terbaru langsung ke bank penerbit sebelum mengambil keputusan.

Sumber: OJK.go.id, Dewan Syariah Nasional MUI No. 54/DSN-MUI/X/2006, PBI 14/2/PBI/2012 tentang Alat Pembayaran Menggunakan Kartu

Pertanyaan yang sering ditanya

Apakah kartu kredit syariah pasti lebih murah dari konvensional?

Tidak selalu. Kartu kredit syariah memang tidak kenakan bunga, tapi ada ujrah (fee bulanan) dan ta'widh (ganti rugi). Total biaya per tahun bisa setara, lebih murah, atau lebih mahal tergantung pola pemakaian.

Bisakah saya pakai kartu kredit syariah untuk transaksi non-halal?

Secara teknis bisa karena sistem pembayaran sama, tapi melanggar prinsip syariah yang menjadi dasar produk. Bank syariah tidak verifikasi merchant secara aktif, tanggung jawab moral ada di pemegang kartu.

Apakah cicilan 0% di kartu kredit syariah sama dengan konvensional?

Mekanismenya berbeda. Di syariah biasanya pakai akad murabahah (jual-beli dengan margin) atau qardh (pinjaman tanpa imbalan) plus ujrah fee yang sudah ditetapkan di muka, sehingga total bayar tetap sama dari awal hingga akhir cicilan.

Referensi resmi

Diakses 13 Juli 2026.

Catatan pentingArtikel ini bersifat edukatif, bukan nasihat keuangan individual. Pertimbangan produk, regulasi, dan suku bunga bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk keputusan besar, konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat atau lembaga resmi yang relevan. Baca selengkapnya di Disclaimer Keuangan.

Artikel terkait di Kredit