Saham syariah: cara pilih lewat ISSI, JII, dan DES OJK
Panduan saham syariah di Indonesia: kenali indeks ISSI, JII, JII70, kriteria seleksi Daftar Efek Syariah OJK, dan cara beli lewat SOTS.
Daftar isi
Ringkasan: Saham syariah adalah saham emiten yang masuk Daftar Efek Syariah (DES) yang ditetapkan OJK: bisnisnya halal dan rasio keuangannya lolos batas tertentu. Acuan indeksnya ada tiga, yaitu ISSI (semua saham syariah), JII (30 paling likuid), dan JII70 (70 likuid). Untuk membelinya, kamu perlu rekening di sekuritas yang punya Sharia Online Trading System (SOTS) tersertifikasi, lalu bertransaksi tunai tanpa margin dan tanpa short selling.
Saham syariah bukan jenis saham yang berbeda secara struktur dari saham biasa. Yang membedakannya adalah proses seleksi dan aturan transaksinya. Berikut cara memahami dan memilihnya dengan benar.
Apa itu saham syariah?
Saham syariah adalah saham perusahaan yang lolos seleksi kepatuhan syariah dan masuk ke dalam Daftar Efek Syariah (DES). DES adalah daftar resmi yang ditetapkan dan direview OJK secara berkala, umumnya dua kali setahun. Sebuah saham baru boleh disebut "syariah" kalau namanya benar-benar tercantum di DES pada periode berjalan, bukan sekadar karena bisnisnya terdengar halal.
Kepatuhan ini juga bersandar pada fatwa DSN-MUI tentang mekanisme perdagangan efek syariah. Jadi ada dua lapis: regulator (OJK) yang menetapkan daftar dan kriteria, serta otoritas fatwa (DSN-MUI) yang menetapkan prinsip syariahnya.
Apa saja kriteria seleksi syariah?
Sebuah emiten bisa masuk DES kalau memenuhi dua kelompok syarat: jenis usaha dan rasio keuangan.
Dari sisi jenis usaha, kegiatan bisnis emiten tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah, misalnya:
- Perjudian dan permainan yang tergolong judi.
- Riba, termasuk jasa keuangan berbasis bunga seperti bank dan pembiayaan konvensional.
- Produksi atau distribusi barang haram, seperti minuman keras dan produk babi.
- Barang atau jasa yang merusak moral, seperti pornografi.
Dari sisi rasio keuangan, emiten harus lolos ambang batas yang ditetapkan regulator. Dua rasio yang paling sering dikutip:
| Rasio | Batas umum | Maksud |
|---|---|---|
| Total utang berbasis bunga dibanding total aset | Tidak lebih dari 45% | Membatasi ketergantungan pada pinjaman berbunga (riba) |
| Total pendapatan bunga dan pendapatan non-halal lain dibanding total pendapatan | Tidak lebih dari 10% | Membatasi kontribusi sumber pendapatan yang tidak halal |
Angka ambang ini diatur dalam peraturan OJK dan sewaktu-waktu bisa direvisi. Karena itu, sebelum menyimpulkan sebuah saham "pasti syariah", cek dokumen DES terbaru di situs OJK, jangan mengandalkan ingatan atau daftar lama.
Apa beda ISSI, JII, dan JII70?
Ketiganya adalah indeks yang isinya diambil dari DES. Bedanya di cakupan dan likuiditas:
- ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia): memuat seluruh saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Ini gambaran paling luas dari pasar saham syariah.
- JII (Jakarta Islamic Index): berisi 30 saham syariah paling likuid. Cocok jadi acuan saham syariah unggulan yang aktif diperdagangkan.
- JII70: berisi 70 saham syariah likuid. Cakupannya di antara JII dan ISSI, memberi pilihan lebih luas dari sekadar 30 nama teratas.
Poin penting: keanggotaan indeks bisa berubah setiap periode review. Saham yang masuk JII tahun ini belum tentu bertahan tahun depan kalau likuiditas atau rasio keuangannya berubah. Jangan anggap komposisinya permanen.
Apa bedanya dengan saham konvensional?
Secara instrumen, satu lembar saham syariah sama saja dengan saham biasa: kamu tetap jadi pemilik sebagian perusahaan dan berhak atas dividen. Perbedaannya ada pada tiga hal.
- Universe terbatas. Kamu hanya boleh membeli saham yang ada di DES. Saham bank konvensional besar, misalnya, otomatis tidak masuk.
- Aturan transaksi lebih ketat. Di sistem syariah tidak ada margin trading (utang untuk beli saham) dan tidak ada short selling (jual saham yang belum dimiliki). Transaksi bersifat tunai.
- Diversifikasi lebih sempit. Karena sektor keuangan konvensional dikeluarkan, sebaran sektornya tidak selengkap pasar penuh. Ini trade-off yang perlu disadari, bukan otomatis kelemahan.
Prinsip memilih emitennya sendiri tidak berbeda jauh dari saham biasa. Kamu tetap perlu menilai fundamental perusahaan, seperti dijelaskan di cara memilih saham blue chip. Kalau kamu masih menimbang antara beli saham langsung atau lewat produk kelolaan, baca saham vs reksa dana lebih dulu.
Bagaimana cara membeli saham syariah lewat SOTS?
SOTS (Sharia Online Trading System) adalah sistem transaksi saham online yang dirancang khusus mengikuti prinsip syariah dan tersertifikasi. Lewat SOTS, aplikasi sekuritas otomatis hanya menampilkan dan mengeksekusi saham yang masuk DES, serta memblokir fitur yang tidak sesuai syariah seperti margin dan short selling.
Langkah umumnya:
- Pilih sekuritas yang punya SOTS tersertifikasi. Tidak semua sekuritas menyediakannya. Cek daftar anggota bursa yang punya SOTS di situs BEI (idx.co.id) atau tanyakan langsung ke sekuritasnya. Pastikan juga sekuritasnya berizin OJK.
- Buka rekening efek syariah. Siapkan KTP, NPWP kalau diminta, dan rekening bank. Prosesnya kini umumnya online. Kamu akan mendapat rekening dana nasabah (RDN) dan akses ke platform SOTS.
- Setor dana ke RDN. Beberapa sekuritas syariah bisa dimulai dengan modal kecil, tergantung kebijakan masing-masing.
- Beli saham yang ada di DES. Karena sistemnya sudah memfilter, saham yang muncul di aplikasi seharusnya sudah syariah. Transaksi dalam satuan lot (1 lot = 100 lembar), berbasis tunai.
- Pantau status DES tiap review. Kalau sebuah saham keluar dari DES, kamu perlu mengevaluasi kembali kepemilikanmu sesuai keyakinan dan panduan sekuritas.
Sebelum menyetor dana ke platform mana pun, pastikan legalitasnya. Panduan praktisnya ada di cara cek legalitas investasi di OJK dan Bappebti.
Kesalahan umum yang perlu dihindari
- Menganggap semua saham "berbau halal" pasti syariah. Yang menentukan adalah daftar DES resmi, bukan kesan atas nama atau produk perusahaan.
- Lupa cek review berkala. Status syariah bisa dicabut kalau rasio keuangan emiten memburuk. Yang lolos tahun lalu belum tentu masih lolos sekarang.
- Mengira label syariah berarti bebas rugi. Kepatuhan syariah menyangkut cara, bukan jaminan hasil. Harga saham syariah tetap bisa turun.
- Beli di aplikasi tanpa SOTS lalu menyebutnya syariah. Tanpa filter SOTS, kamu bisa keliru bertransaksi di luar kriteria.
Kalau kamu benar-benar baru di dunia ini, mulai dari gambaran besarnya dulu lewat investasi syariah untuk pemula sebelum masuk ke saham individual.
Catatan: artikel ini bersifat edukasi, bukan nasihat keuangan atau ajakan membeli saham tertentu. Sesuaikan dengan tujuan, horizon, dan kemampuan risikomu, dan pertimbangkan berkonsultasi dengan pihak berizin sebelum keputusan besar.
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (ojk.go.id), Bursa Efek Indonesia (idx.co.id), dan Dewan Syariah Nasional MUI (dsnmui.or.id).
Pertanyaan yang sering ditanya
Apa itu saham syariah?
Saham syariah adalah saham perusahaan yang masuk Daftar Efek Syariah (DES) yang ditetapkan OJK. Emitennya menjalankan bisnis halal dan memenuhi batas rasio keuangan tertentu, seperti utang berbasis bunga dan pendapatan non-halal.
Apa beda ISSI, JII, dan JII70?
ISSI memuat seluruh saham syariah yang tercatat di BEI. JII berisi 30 saham syariah paling likuid, sedangkan JII70 berisi 70 saham syariah likuid. Ketiganya diseleksi dari DES, bukan indeks yang berdiri sendiri.
Bagaimana cara beli saham syariah?
Buka rekening di sekuritas yang punya Sharia Online Trading System (SOTS) tersertifikasi, aktifkan fitur syariahnya, lalu beli hanya saham yang masuk DES. Transaksi berbasis tunai, tanpa margin dan tanpa short selling.
Referensi resmi
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) - Daftar Efek Syariah
- Bursa Efek Indonesia (BEI/IDX) - indeks saham syariah
- Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)
Diakses 12 Juli 2026.