Lewati ke konten utama
Panduan Keuangan
Investasi6 menit baca

Cara baca rasio PER dan PBV saham untuk menilai valuasi

Panduan membaca rasio valuasi saham PER dan PBV: rumus, arti angka tinggi atau rendah, cara bandingkan ke industri dan histori, plus contoh hitung sederhana.

Oleh Redaksi Panduan Keuangan
Daftar isi

Ringkasan: PER (Price to Earnings Ratio) adalah harga saham dibagi laba per saham, dan PBV (Price to Book Value) adalah harga saham dibagi nilai buku per saham. Keduanya mengukur seberapa mahal atau murah sebuah saham secara relatif. Angka tinggi berarti pasar menghargai mahal (ekspektasi tumbuh atau overvalued), angka rendah berarti murah (atau bisnis bermasalah). Kunci membacanya: bandingkan ke rata-rata industri dan histori emiten, jangan dipakai sendirian.

PER dan PBV adalah dua rasio valuasi paling dasar untuk menilai apakah harga sebuah emiten wajar. Artikel ini membahas rumus, cara membaca angkanya, contoh perhitungan, dan keterbatasan yang wajib kamu tahu.

Apa itu rasio PER dan bagaimana rumusnya?

PER (Price to Earnings Ratio) menjawab pertanyaan: berapa rupiah yang kamu bayar untuk setiap satu rupiah laba tahunan perusahaan. Rumusnya ada dua versi yang setara:

  • PER = Harga saham / EPS (laba per saham), atau
  • PER = Kapitalisasi pasar / Total laba bersih

EPS (Earnings Per Share) sendiri adalah laba bersih dibagi jumlah saham beredar.

Cara gampang memaknainya: PER menunjukkan berapa tahun laba yang dibutuhkan untuk balik modal, jika laba dianggap tetap. PER 15 kali artinya kamu membayar 15 kali laba setahun, atau secara kasar butuh 15 tahun laba untuk menutup harga beli.

Contoh sederhana:

  • Saham A harga Rp 4.000 per lembar
  • EPS (laba per saham) tahun terakhir Rp 250
  • PER = 4.000 / 250 = 16 kali

Artinya pasar menghargai saham A pada 16 kali labanya.

Apa itu rasio PBV dan bagaimana rumusnya?

PBV (Price to Book Value) membandingkan harga saham dengan nilai buku (book value) per saham. Nilai buku adalah total ekuitas atau aset bersih perusahaan, yaitu total aset dikurangi total kewajiban. Rumusnya:

  • PBV = Harga saham / Nilai buku per saham (BVPS)

Nilai buku per saham dihitung dari total ekuitas / jumlah saham beredar.

PBV menunjukkan berapa kali kamu membayar dibanding kekayaan bersih perusahaan di atas kertas. PBV 1 kali berarti harga saham persis sama dengan nilai buku per saham.

Contoh sederhana:

  • Saham B harga Rp 3.000 per lembar
  • Total ekuitas Rp 6 triliun, saham beredar 4 miliar lembar
  • Nilai buku per saham = 6.000.000.000.000 / 4.000.000.000 = Rp 1.500
  • PBV = 3.000 / 1.500 = 2 kali

Artinya kamu membayar dua kali nilai buku untuk saham B.

Apa arti angka PER dan PBV yang tinggi atau rendah?

Tidak ada angka "benar" yang berlaku mutlak, tapi ada logika umum untuk membacanya:

KondisiKemungkinan arti
PER tinggiPasar berekspektasi laba tumbuh cepat, atau saham sudah overvalued
PER rendahSaham murah relatif ke laba, atau bisnis stagnan / laba diperkirakan turun
PBV tinggiPerusahaan dinilai punya aset tak berwujud kuat (merek, jaringan, prospek)
PBV rendahHarga di bawah nilai buku, bisa undervalued atau ada masalah pada aset
PBV di bawah 1Pasar menilai perusahaan kurang dari nilai bukunya, sering ada peringatan

Poin penting: angka tinggi tidak otomatis jelek dan angka rendah tidak otomatis bagus. PER rendah yang menipu (disebut value trap) sering terjadi pada emiten yang labanya sedang menurun. Sebaliknya, PER tinggi bisa wajar untuk perusahaan yang labanya konsisten tumbuh dua digit.

Bagaimana membandingkan PER dan PBV dengan benar?

Rasio valuasi hanya bermakna kalau dibandingkan. Ada dua pembanding utama:

  1. Rata-rata industri (peers). Bandingkan emiten ke pesaing di sektor yang sama. Bank besar biasa diperdagangkan pada rentang PER dan PBV yang berbeda jauh dari emiten teknologi atau consumer goods. Membandingkan bank dengan startup teknologi seperti membandingkan apel dengan jeruk.
  2. Histori emiten itu sendiri. Lihat rentang PER dan PBV emiten selama 3 sampai 5 tahun terakhir. Kalau biasanya sahamnya di PER 12 sampai 18 dan sekarang di PER 9, itu bisa jadi sinyal murah relatif ke kebiasaannya sendiri, selama fundamentalnya tidak berubah buruk.

Contoh cara pikir: kalau rata-rata PER sektor perbankan ada di sekitar 12 kali dan emiten yang kamu incar ada di 8 kali dengan laba yang masih tumbuh, itu layak ditelusuri lebih dalam. Tapi kalau PER-nya rendah karena labanya anjlok tahun ini, angka murah itu menyesatkan.

Untuk memilih pembanding yang tepat, kamu perlu paham dulu isi laporan keuangannya. Lihat cara baca laporan keuangan saham supaya angka EPS dan ekuitas yang kamu pakai benar.

Kapan pakai PER dan kapan pakai PBV?

Keduanya saling melengkapi, tapi ada situasi di mana salah satu lebih relevan:

  • PER lebih cocok untuk perusahaan yang labanya stabil dan positif, misalnya consumer goods, telekomunikasi, atau perusahaan jasa yang asetnya ringan.
  • PBV lebih cocok untuk sektor asset-heavy seperti bank, asuransi, dan properti, karena nilai buku mencerminkan sebagian besar kekuatan bisnisnya. Bank umumnya dinilai dengan kombinasi PBV dan return on equity.
  • Gabungkan keduanya. Perusahaan dengan PBV tinggi tapi return on equity juga tinggi bisa wajar, karena ia menghasilkan laba besar dari modalnya. PBV tinggi dengan return on equity rendah justru tanda mahal.

Rasio ini bagian dari analisis fundamental. Kalau kamu ingin memahami posisinya dibanding pendekatan lain, baca cara analisis saham fundamental vs teknikal.

Apa keterbatasan PER dan PBV?

Ini bagian yang paling sering dilewatkan pemula. Rasio valuasi punya kelemahan nyata:

  • Tidak berdiri sendiri. PER dan PBV hanya potret satu sisi. Harus dipadukan dengan pertumbuhan laba, return on equity, arus kas, dan tingkat utang.
  • Menyesatkan untuk perusahaan rugi. Kalau laba negatif, PER menjadi negatif atau tidak berarti. Emiten baru atau perusahaan siklikal yang sedang rugi tidak bisa dinilai dengan PER biasa.
  • Sensitif terhadap laba sekali waktu. Laba yang terdongkrak keuntungan penjualan aset (bukan operasi inti) membuat PER terlihat murah palsu. Cek apakah labanya berkualitas.
  • Nilai buku bisa tidak realistis. PBV memakai nilai akuntansi, bukan nilai pasar aset sebenarnya. Untuk perusahaan yang nilainya banyak di merek atau teknologi, nilai buku sering terlalu kecil sehingga PBV terlihat tinggi padahal wajar.

Karena itu, rasio valuasi paling aman dipakai untuk menyaring dan membandingkan, bukan sebagai satu-satunya alasan membeli. Untuk saham yang mapan dan stabil, pendekatan ini lebih dapat diandalkan; lihat cara pilih saham blue chip sebagai contoh emiten yang valuasinya lebih mudah dibaca.

Kesimpulan singkat

PER dan PBV adalah alat awal yang berguna untuk menilai kewajaran harga saham. PER fokus ke laba, PBV fokus ke nilai buku. Baca angkanya selalu secara relatif: bandingkan ke rata-rata industri dan histori emiten, cek kualitas laba dan return on equity, lalu pakai bersama metrik lain. Rasio murah belum tentu peluang, dan rasio mahal belum tentu jebakan.

Disclaimer: artikel ini bersifat edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi ada di tanganmu dan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan serta profil risiko masing-masing.

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (ojk.go.id) dan Bursa Efek Indonesia (idx.co.id).

Pertanyaan yang sering ditanya

Apa beda PER dan PBV?

PER (Price to Earnings Ratio) membandingkan harga saham dengan laba per saham, jadi fokus ke profit. PBV (Price to Book Value) membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham, jadi fokus ke aset bersih. PER cocok untuk perusahaan yang labanya stabil, PBV cocok untuk sektor asset-heavy seperti bank dan properti.

PER rendah pasti saham murah?

Belum tentu. PER rendah bisa berarti saham undervalued, tapi bisa juga sinyal bisnis sedang bermasalah atau labanya diperkirakan turun. Ini yang disebut value trap. Selalu bandingkan ke rata-rata industri dan cek tren laba beberapa tahun sebelum menyimpulkan.

Berapa PER dan PBV yang ideal?

Tidak ada angka ideal universal karena setiap sektor punya rentang normal berbeda. Bank besar biasa diperdagangkan pada PER belasan dan PBV 1 sampai 3 kali, sementara emiten pertumbuhan bisa jauh lebih tinggi. Bandingkan angka emiten ke peers di industri yang sama, bukan ke angka absolut.

Referensi resmi

Diakses 19 Juli 2026.

Catatan pentingArtikel ini bersifat edukatif, bukan nasihat keuangan individual. Pertimbangan produk, regulasi, dan suku bunga bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk keputusan besar, konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat atau lembaga resmi yang relevan. Baca selengkapnya di Disclaimer Keuangan.

Artikel terkait di Investasi